Jumat, 04 November 2011

Menghadiri kegiatan Open House Program Doktoral di UI

Pukul 13.30 saya menghadiri open house program S3 untuk program Ilmu akuntansi. Menurut nara sumber ada beberapa persyaratan untuk dapat di terima :
1.  Skor Test Potensi Akademik (550) dan TOEFL 500 ( 2 tahun terakhir)
2.  S2 semua jurusan
3.  Biaya pendaftaran (ujian) Rp 750.000

Mengidentifikasi proses yang tidak memiliki nilai tambah

Mengapa kita sering merasa tidak efektif dalam bekerja? terasa waktu 24 jam terasa kurang? dan banyak orang yang tidak mau memikul tanggung jawab lebih? atau sering merasa kesal ketika harus menunggu seseorang? atau kita sebagai atasan selalu merasa kewalahan ketika terus ditambah pekerjaan yang banyak? dan kita sebagai atasan merasa kekurangan tim, sehingga selalu meminta ketenagaan? atau kita selalu memikirkan tempat yang aman untuk menyimpan perhiasan kita? apa sebabnya? atau kita selalu mengecek setiap barang yang datang ? atau kita selalu membuat penjadwalan atas setiap pekerjaan kita?

menurut Jeffrey K. Liker, dalam bukunya The Toyota Way, perusahaan Toyota dalam Toyota Production System telah mengindenfifikasi tujuh jenis pemborosan yang tidak menambah nilai dalam proses bisnis atau manufaktur. Ada delapan pemborosan diantara, ya :
1.  Produksi berlebih (overdproduction)
     Memproduksi barang-barang yang belum dipesan, akan menimbulkan pemborosan seperti kelebihan      tenaga kerja dan kelebihan tempat penyimpanan dan biaya transportasi yang meningkat karena adanya persediaan berlebih.
2.  Waktu menunggu
Para pekerja hanya mengamati mesin otomatis yang sedang berjalan atau berdiri menunggu langkah proses selanjutnya, alat, pasokan, komponen selanjutnya, dan lain sebagainya atau menganggur saja karena kehabisan material, keterlambatan proses, mesin rusak dan bottleneck (sumbatan) kapasitas.
3.  Transportasi yang tidak perlu
Membawa barang dalam proses (WIP) dalam jarak yang jauh, menciptakan angkutan yang tidak efisien, atau memindahkan material, komponen, atau barang jadi ke dalam atau ke luar gedung jadi ke dalam atau ke luar gedung atau antar proses.
4.  Memproses secara berlebih atau memproses secara keliru
Melakukan langkah yang tidak diperlukan untuk memproses komponen. Melaksanakan pemrosesan yang tidak efisien karena alat yang buruk dan rancangan produk yang buruk, menyebabkan gerakan yang tidak perlu dan memproduksi barang cacat. Pemborosan terjadi ketika membuat produk yang memiliki kualitas lebih tinggi daripada yang diperlukan.
5.  Persediaan berlebih
Kelebihan material, barang dalam proses, atau barang jadi menyebabkan lead time yang panjang, barang kadaluwarsa, barang rusak, peningkatan biaya pengangkutan dan penyimpanan, dan keterlambatan. Persediaan berlebih juga menyembunyikan masalah seperti ketidakseimbangan produksi, keterlambatan pengiriman dari pemasok, produk cacat, mesin rusak, dan waktu set up yang panjang.
6.  Gerakan yang tidak perlu
Setiap gerakan karyawan yang mubazir saat melakukan pekerjaannya, seperti mencari, meraih, atau menumpuk komponen, alat dan lain sebagainya. Berjalan juga merupakan pemborosan.
7.  Produk cacat
Memproduksi komponen cacat atau yang memerlukan perbaikan,. Perbaikan atau pengerjaan ulang, scrap, memproduksi barang pengganti, dan inspeksi berarti tambahan penanganan, waktu dan upaya yang sia-sia
8.  Kreativitas karyawan yang tidak dimamnfaatkan
Kehilangan waktu. gagasan, keterampilan, peningkatan, dan kesempatan belajar karena tidak melibatkan atau mendengarkan karyawan anda

Selasa, 01 November 2011

Perlindungan kepada Allah

Sebagai pekerja kantoran, saya harus berangkat pagi dan pulang sore hari. Ada perasaan takut meninggalkan keluarga. Ada kekhawatiran selama tidak dengan saya siapa yang memberikan pendidikan, siapa yang menjaga, apa yang dimakannya. Kekhawatiran-kekhawatiran itu terkadang terus muncul. Akan tetapi, hal itu akan dilematis ketika kita tidak memiliki pekerjaan, dan di tanya oleh istri kita sebagai manajer keuangan, dan meminta uang belanja, dan kita tidak mampu menyelesaikannya. Mau tidak mau seorang kepala keluarga harus bekerja di luar atau pergi merantau di negeri seberang. Saya harus meminta perlindungan buat mereka kepada yang menciptakanNya yaitu Allah SWT. Pelindung yang maha pelindung. Dan saya hanya berdoa seperti Rasulullah berdoa untuk hasan dan husein (cucunya):
"Aku minta perlindungan bagi kamu berdua dengan kalimah-kalimah Allah yang sempurna daripada setiap syaitan, binatang yang berbisa dan bencana ain (pandangan mata yang menimpakan penyakit)."

Antara garis tangan dan cita-cita

Saya menjadi auditor, dosen dan peternak website ini bukan dikarenakan cita-cita saya sejak kecil. Cita-cita saya sejak kecil adalah menjadi seorang insinyur. Saya menyimpulkan ini dikarenakan garis tangan saya. Manusia hanya diwajibkan berusaha, akan tetapi takdir dikembalikan kepada Allah SWT.

Allah berfirman: “dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaan itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata lalu diberitakannya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At-Taubah 105).

Menurut saya garis tangan itu bukan sesuatu yang kebetulan, ada proses-proses usaha yang dilakukan dan ternyata mengarah ke kondisi aktual kita. Hari ini saya akan sambut garis tangan saya menuju lebih baik

Mulai penelitian kembali

Sudah lama tidak memulai penelitian lagi, penelitian seputar akuntansi tentunya. Ide muncul ini tatkala saya tak sengaja membaca suatu blog yang isinya curhatan seseorang mengenai semangatnya untuk melakukan penelitian dan di blognya menyertakan sebuah ayat alquran yang memotivasi semua orang untuk melakukan penelitian.

 Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imran 190-191)

 Walaupun di negara kita penghargaan atas hasil penelitian sepertinya terabaikan, mulai dari pendanaan dan wadah untuk menyalurkan hasil penelitiannya. Terkadang penelitian disimpan di perpustakaan sebagai referensi mahasiswa (hehehehe).Saat ini ada dua penelitian yang akan saya selesaikan. tanggal 6 November 2011 ini saya akan serahkan langsung ke pusat penelitian. Mudah-mudahan akhir tahun ini saya bisa selesaikan.  Siap-siap saja laptopku akan terus saya pacu untuk menghasilkan tulisan-tulisan.
Mudah-mudahan rencanaku ini tercapai. Amien

Jumat, 28 Oktober 2011

Aktivitas di pagi hari

Kebiasaan bangun lebih awal sudah biasa saya lakukan....sejak dari SMU dan mudah-mudahan hingga akhir hayat saya nanti...aktivitas bangun pagi yang sangat berkesan...kegiatan bangun pagi ini dikarenakan saya tidur lebih awal...habis sholat isya kira-kira jam 19.30 saya sudah tidur bersama anak saya Azka...kebetulan azka memiliki kebiasaan yang sama tidur lebih awal...tidur lebih awal ini tentunya dari kebiasaan saya ketika waktu SMU saya tinggal di sekretariat organisasi dan disitu banyak sekali yang tinggal...dan setiap malam ramai sekali di sana...tentunya saya harus tidur lebih awal...agar saya bisa terbangun di pagi hari dan bisa belajar serta mengerjakan tugas-tugas sekolah saya. begitulah asal-mulanya...menurut pepatah, kebiasaan muncul dikarenakan ada penyebabnya.
kembali ke aktivitas pagi...biasanya saya bangun jam 3 pagi...sholat tahajjud dulu, buka laptop, blogging, atau hanya sekedar membaca buku-buku yang menarik. Dan sekalian menunggu waktu sholat subuh.. Sholat subuh dilalukan di mesjid dan langsung setelah itu saya memulai blogging lagi dan biasanya anak saya terbangun jam 5 pagi...dan langung menuju ke lapangan bermain bola sama azka...azkaa kebetulan senang sekali olahraga....begini positifnya...jika anak suka olahraga, bapaknya juga kebawa olahraga...maen sepakbola kayaknya lebih mahir...tendangannya lurus dan kencang...dan tentunya dengan ekspresi dalam membuat goal....saya sebagai orang tua mengarahkan bakat si anak untuk menemukan potensi si anak ...terus menggali dan menggali....dan sampai anak menemukan potensi dan kesenangannya...dan semuanya di kembalikan ke si anak tersbut, asal yang dilakukan positif. Anak adalah seperti kertas kosong, dan biarkan si anak menuliskan pada diri mereka sendiri apa isi dari kertas itu. Abis olahraga, biasanya saya memandikan azka...dan kegiatan memandikan anak ini sungguh pengalaman yang membahagiakan...lebih bahagia ketika kita sekedar memberikan jajan ....di kegiatan memandikan, ada upaya orang tua untuk mendekatkan si anak kepada orang tua......dan menurut buku perkembangan anak, bahwa usia di bawah 3 tahun,..adalah usia pendekatan dengan orang tua sebelum anak kita mengenai lingkungannya...kedekatan dengan orang tua harus terus di pupuk...diberikan perhatian, dilibatkan, berkomunikasi, bercerita, dihargai, di cium...Waktu pagi hari bagi saya adalah waktu yang efektif untuk mendekatkan saya sebagai orang tua...sempatkan waktu bersama dengan anak saya...dan tentunya saya harus menyadari bahwa anak adalah titipan Allah...maka saya diwajibkan menanamkan nilai-nilai islam ke dalam diri azka..kebersamaan tanpa nilai hanya semu,,,,kebersamaan menuju cinta Illahi....

Senin, 24 Oktober 2011

Success story Barrack Obama

The 44th and current president of the United States, Barack Obama was born August 4, 1961 in Honolulu, Hawaii. He was a civil rights lawyer before pursuing a political career, first as Illinois State Senator, and later as the first African-American president of the United States. President Obama continues to enact policy changes in response to the issues of health care and economic crisis.


Quotes

"It's only when you hitch your wagon to something larger than yourself that you will realize your true potential."

– Barack Obama



Early Life

President of the United States. Born Barack Hussein Obama on August 4, 1961, in Honolulu, Hawaii. Obama's mother, Ann Dunham, grew up in Wichita, Kansas, where her father worked on oil rigs during the Depression. After the Japanese attack on Pearl Harbor, Dunham's father, Stanley, enlisted in the service and marched across Europe in Patton's army. Dunham's mother, Madelyn, went to work on a bomber assembly line. After the war, the couple studied on the G.I. Bill, bought a house through the Federal Housing Program and, after several moves, landed in Hawaii.

Obama's father, Barack Obama, Sr., was born of Luo ethnicity in Nyanza Province, Kenya. The elder Obama grew up herding goats in Africa, eventually earning a scholarship that allowed him to leave Kenya and pursue his dreams of college in Hawaii. While studying at the University of Hawaii in Manoa, Obama, Sr. met fellow student, Ann Dunham. They married on February 2, 1961. Barack was born six months later.

Obama's parents separated when he was two years old, later divorcing. Obama, Sr. went on to Harvard to pursue Ph.D. studies, and then returned to Kenya in 1965. In 1966, Dunham married Lolo Soetoro, another East–West Center student from Indonesia. A year later, the family moved to Jakarta, Indonesia, where Obama's half-sister Maya Soetoro Ng was born. Several incidents in Indonesia left Dunham afraid for her son's safety and education so, at the age of 10, Barack was sent back to Hawaii to live with his maternal grandparents. His mother and sister later joined them.



Excelling in School

While living with his grandparents, Obama enrolled in the esteemed Punahou Academy, excelling in basketball and graduating with academic honors in 1979. As one of only three black students at the school, Obama became conscious of racism and what it meant to be African-American. He later described how he struggled to reconcile social perceptions of his multiracial heritage with his own sense of self. "I began to notice there was nobody like me in the Sears, Roebuck Christmas catalog...and that Santa was a white man," he said. "I went to the bathroom and stood in front of the mirror with all my senses and limbs seemingly intact, looking the way I had always looked, and wondered if something was wrong with me."

Obama also struggled with the absence of his father, who he saw only once more after his parents divorced, in a brief 1971 visit. "[My father] had left paradise, and nothing that my mother or grandparents told me could obviate that single, unassailable fact," he later reflected. "They couldn't describe what it might have been like had he stayed." Obama, Sr. eventually lost his legs in an automobile accident, also losing his job as a result. In 1982, he died in yet another car accident while traveling in Nairobi. Obama, Jr. was 22 years old when he received the news of his father's passing. "At the time of his death, my father remained a myth to me," Obama said, "both more and less than a man."

After high school, Obama studied at Occidental College in Los Angeles for two years. He then transferred to Columbia University in New York, graduating in 1983 with a degree in political science. After working in the business sector for two years, Obama moved to Chicago in 1985. There, he worked on the South Side as a community organizer for low-income residents in the Roseland and the Altgeld Gardens communities.



Law Career

It was during this time that Obama, who said he "was not raised in a religious household," joined the Trinity United Church of Christ. He also visited relatives in Kenya, which included an emotional visit to the graves of his biological father and paternal grandfather. "For a long time I sat between the two graves and wept," Obama said. "I saw that my life in America—the black life, the white life, the sense of abandonment I felt as a boy, the frustration and hope I'd witnessed in Chicago—all of it was connected with this small plot of earth an ocean away."

Obama returned from Kenya with a sense of renewal, entering Harvard Law School in 1988. The next year, he met Michelle Robinson, an associate at Sidley & Austin law firm in Chicago. She was assigned to be Obama's adviser during a summer internship at the firm, and soon the couple began dating. In February 1990, Obama was elected the first African-American editor of the Harvard Law Review, and he graduated magna cum laude in 1991.

After law school, Obama returned to Chicago to practice as a civil rights lawyer, joining the firm of Miner, Barnhill & Galland. He also taught at the University of Chicago Law School, and helped organize voter registration drives during Bill Clinton's 1992 presidential campaign. On October 3, 1992, he and Michelle were married. They moved to Kenwood, on Chicago's South Side, and welcomed two daughters: Malia (born 1998) and Sasha (born 2001).

Entry into Illinois Politics

Obama published his autobiography in 1995 Dreams From My Father: A Story of Race and Inheritance. The work received high praise from literary figures such as Toni Morrison and has since been printed in 10 languages, including Chinese, Swedish and Hebrew. The book had a second printing in 2004, and is currently being adapted into a children's version. The 2006 audiobook version of Dreams, which was narrated by Obama, received a Grammy award for Best Spoken Word Album.

Obama's advocacy work led him to run for the Illinois State Senate as a Democrat. He won election in 1996. During these years, Obama worked with both Democrats and Republicans in drafting legislation on ethics, expanded health care services, and early childhood education programs for the poor. He also created a state earned-income tax credit for the working poor. Obama became chairman of the Illinois Senate's Health and Human Services Committee as well, and after a number of inmates on death row were found innocent, he worked with law enforcement officials to require the videotaping of interrogations and confessions in all capital cases.

In 2000, Obama made an unsuccessful Democratic primary run for the U. S. House of Representatives seat held by four-term incumbent candidate Bobby Rush. Undeterred, Obama created a campaign committee in 2002, and began raising funds to run in the 2004 U.S. Senate Race. With the help of political consultant David Axelrod, Obama began assessing his prospects of a Senate win.

Following the 9/11 attacks in 2001, Obama was an early opponent of President George W. Bush's push to war with Iraq. Obama was still a state senator when he spoke against a resolution authorizing the use of force against Iraq during a rally at Chicago's Federal Plaza in October 2002. "I am not opposed to all wars. I'm opposed to dumb wars," he said. "What I am opposed to is the cynical attempt by Richard Perle and Paul Wolfowitz and other arm-chair, weekend warriors in this Administration to shove their own ideological agendas down our throats, irrespective of the costs in lives lost and in hardships borne."



U.S. Senate Career

Obama, encouraged by poll numbers, decided to run for the U.S. Senate open seat vacated by Republican Peter Fitzgerald. In the 2004 Democratic primary, he won 52 percent of the vote, defeating multimillionaire businessman Blair Hull and Illinois Comptroller Daniel Hynes. That summer, he was invited to deliver the keynote speech in support of John Kerry at the 2004 Democratic National Convention in Boston. Obama emphasized the importance of unity, and made veiled jabs at the Bush administration and the diversionary use of wedge issues.

After the convention, Obama returned to his U.S. Senate bid in Illinois. His opponent in the general election was supposed to be Republican primary winner Jack Ryan, a wealthy former investment banker. However, Ryan withdrew from the race in June 2004, following public disclosure of unsubstantiated sexual deviancy allegations by Ryan's ex-wife, actress Jeri Ryan.

In August 2004, diplomat and former presidential candidate Alan Keyes accepted the Republican nomination to replace Ryan. In three televised debates, Obama and Keyes expressed opposing views on stem cell research, abortion, gun control, school vouchers and tax cuts. In the November 2004 general election, Obama received 70 percent of the vote to Keyes' 27 percent, the largest electoral victory in Illinois history. With his win, Barack Obama became only the third African-American elected to the U.S. Senate since the Reconstruction.

Sworn into office January 4, 2005, Obama partnered with Republican Senator Richard Lugar of Indiana on a bill that expanded efforts to destroy weapons of mass destruction in Eastern Europe and Russia. Then, with Republican Senator Tom Corburn of Oklahoma, he created a website that tracks all federal spending. Obama also spoke out for victims of Hurricane Katrina; pushed for alternative energy development; and championed improved veterans' benefits.

His second book, The Audacity of Hope: Thoughts on Reclaiming the American Dream, was published in October 2006. The work discussed Obama's visions for the future of America, many of which became talking points for his eventual presidential campaign. Shortly after its release, it hit No. 1 on both the New York Times and Amazon.com bestsellers lists.

2008 Presidential Election

In February 2007, Obama made headlines when he announced his candidacy for the 2008 Democratic presidential nomination. He was locked in a tight battle with former first lady and then-U.S. Senator from New York, Hillary Rodham Clinton. On June 3, 2008, however, Obama became the presumptive nominee for the Democratic party, and Senator Clinton delivered her full support to Obama for the duration of his campaign. On November 4th, 2008, Barack Obama defeated Republican presidential nominee John McCain for the position of U.S. President, 52.9 percent to 45.7 percent. On January 20, 2009, Obama became the 44th president of the United States—and the first African-American to hold this office.

When Obama took office, he inherited a global economic recession; two on-going foreign wars; and the lowest international favorability rating for the United States ever. He campaigned on an ambitious agenda of financial reform, alternative energy, and reinventing education and health care—all while bringing down the national debt. Because these issues were intertwined with the economic well-being of the nation, he believed all would have to be undertaken simultaneously. During his inauguration speech, Obama summarized the situation by saying, "Today I say to you that the challenges we face are real.



First 100 Days

Between Inauguration Day and April 29, the Obama administration took to the field on many fronts. Obama coaxed Congress to expand health care insurance for children and provide legal protection for women seeking equal pay. A $787 billion stimulus bill was passed to promote short-term economic growth. Housing and credit markets were put on life-support, with a market-based plan to buy U.S. banks' toxic assets. Loans were made to the auto industry, and new regulations were proposed for Wall Street. He also cut taxes for working families, small businesses and first-time home buyers. The president also loosened the ban on embryonic stem cell research and moved ahead with a $3.5 trillion budget plan.

During his first 100 days, President Obama also undertook a complete overhaul of America's foreign policy. He reached out to improve relations with Europe, China, Russia and open dialogue with Iran, Venezuela, and Cuba. He lobbied allies to support a global economic stimulus package. He committed an additional 21,000 troops to Afghanistan and set an August 2010 date for withdrawal of U.S. troops from Iraq. In more dramatic incidents, he took on pirates off the coast of Somalia and prepared the nation for an attack of the Swine Flu. For his efforts, he was awarded the 2009 Nobel Peace Prize by the Norwegian Nobel Committee.

2010 State of the Union

On January 27, 2010, President Obama delivered his first State of the Union speech. During his oration, Obama addressed the challenges of the economy, proposing a fee for larger banks, announcing a possible freeze on government spending in 2010, and speaking against the Supreme Court's reversal of a law capping campaign finance spending. He also challenged politicians to stop thinking of re-election and start making positive changes, critisizing Republicans for their refusal to support any legislation, and chastizing Democrats for not pushing hard enough to get legislation passed. He also insisted that, despite current obstacles, he was determined to help American citizens through the nation's current domestic difficulties. "We don't quit. I don't quit," he said. "Let's sieze this moment to start anew, to carry the dream forward, and strengthen our union once more."

© 2011 A&E Television Networks. All rights reserved.