Senin, 27 Agustus 2012

Biaya Proses dan Pesanan


1.                              SISTEM PERHITUNGAN BIAYA PRODUK
            Menentukan biaya yang akurat dari suatu produk atau jasa sangatlah penting bagi keberhasilan perusahaan di sebahagian besar industri. Sebagai contoh smith fabrication Inc di Kent Washington menggunakan sistem perhitungan biaya produk untuk memperkirakan biaya dan membebankan pelanggan atas produk logam lembaran yang disediakan bagi produsen lain dalam industri produk produk penerbangan computer, telekomunikasi, dan kesehatan. Metode perhitungan produk biaya produk yang digunakan memberikan nilai kompetitif, yaitu melalui penyediaan informasi biaya akurat dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh pelanggan. Demikian pula Kurtz industries menawarkan harga yang kompetitif atas jasa pemrosesan menggunakan mesin melalui penggunaan penghitungan biaya produk berdasarkan harga pasar wajar.
            Apa yang telah disadari oleh perusahaan perusahaan ini dan perusahaan-perusahaan lainnya adalah metode perhitungan biaya yang sederhana, namun akurat memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan kompetitif mereka. Contoh lainnya adalah pembangunan dan renovasi rumah, dimana penghitungan biaya produk adalah sangat penting untuk memperkirakan biaya dan menetapkan harga pesanan.
            Smith fabrication, Kurtz Industries, dan banyak pembangunan rumah lainnya menggunakan perhitungan biaya produk yang disebut dengan sistem penghitungan biaya yang berdasarkan pesanan (job costing system). Perhitungan biaya berdasarkan pesanan adalah salah satu dari beragam sistem perhitungan biaya yang dapat digunakan perusahaan. Sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan khususnya cocok untuk perusahaan yang memproduksi produk berdasarkan pesanan (made to order product)  seperti pemrosesan menggunakan mesin (machining) pengerjaan logam (metal working) dan pembangunan rumah. Pembuatan produk atau jasa berdasarkan pesanan spesifik pelanggan. Hal ini berbeda dengan perusahaan yang memproduksi barang dalam jumlah besar untuk dijual kepada pedagang grosir dan ritel. Perusahaan-perusahaan ini tidak secara langsung berhubungan dengan konsumen akhir. Perusahaan pengemas botol soda, pemroses makanan, dan produsen perlengkapan kamar mandimerupakan contoh yang tepat. Jenis-jenis perusahaan yang disebut terakhir memiliki orientasi produksi pada proses dibandingkan pesanan pelanggan. Berdasarkan konsep biaya penerapan perhitungan biaya berdasarkan pesanan digunakan pada saat mudah untuk menelusuri biaya bahan bakku dan biaya tenaga kerja untuk tiap pesanan pelanggan. Dalam perusahaan yang berorientasi pada proses. Biaya biasanya ditelusuri ke departemen produksi dan kemudian dialokasi kemasing-masing produk.
Perhitungan biaya produk (product costing) adalah proses pengumpulan pengelompokan dan pembebanan biaya biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik pada produk dan jasa. Perhitungan biaya produk memberikan informasi biaya yang berguna bagi perusahaan manufaktur maupun perusahaan nonmanufaktur. Berikut perbedaan antara Job order cost dan Process cost system. Pengertian : Biaya pesanan, merupakan suatu sistem pengumpulan biaya produksi yang didasarkan pada produk yang dipesan oleh pelanggan. Dengan demikian maka produk yang dihasilkanpun merupakan produk yang spesifikasinya berdasarkan pada si pemesan. Harga pokok perunit produk merupakan total biaya produksi atas produk yang dipesan dibagi dengan jumlah produk pesanan tersebut.




2. SEKILAS SISTEM PESANAN
Karakteristik  Perusahaan yang berbasis Pesanan.
            Pada perusahaan-perusahaan yang menggunakan basis harga pokok pesanan perhitungan biaya-biaya yang timbul dapat didasarkan pada biaya-biaya yang timbul selama proses produksi (historical cost) ataupun biaya yang ditentukan dimuka (predetermine cost).
            Ciri utama persahaan yang menggunakan sistem ini adalah:
1.   Proses produksi yang tidak kontinyu, oleh karena belum tentu pesanan suatu produk diperoleh secara terus menerus dengan spesifikasi yang sama.
2.   Produk yang dihasilkan disesuaikan dengan spesifikasi produk yang dipesan oleh langganan.
3.   Proses produksi semata-mata ditujukan pada pemenuhan pesanan pelanggan bukan untuk pemenuhan persediaan .

3. Perhitungan Harga Pokok Pesanan.
            Untuk menentukan besarnya harga pokok pesanan, perusahaan biasanya melakukan :
1.    Memproduksi produk dengan beragam jenis kemudian menghitung biayanya berdasarkan jenis tersebut
2.    Menghitung biaya produksi, dalam hal ini maka biaya-biaya yang timbul  lebih relevan digolongkan atas dasar hubungannya dengan produk, dengan konsep biaya ini maka biaya dapat dikelompokkan atas 2 kelompok besar yaitu ; biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung.
3.    Harga pokok perunit produk yang ditawarkan didasarkan pada total biaya produksi dibagi dengan jumlah unit yang dihasilkan.

4. Arus Biaya
            Sistem akuntansi biaya pesanan menghendaki adanya informasi biaya untuk tiap-tap pesanan. Semua biaya sehubungan dengan proses produksi dikumpulkan menurut pesanan  (pekerjaan) sesuai dengan kartu pesanan. Disamping itu arus masuk keluarnya biaya dalam proses produksi harus dicatat. Untuk itu didalam buku besar perusahaan dibuatkan perkiraan teersendiri yang diberi nama : Pekerjaan dalam Proses. Dengan cara ini, biaya produksi dapat diketahui setiap saat., yaitu dengan melihat catatan dalam account Persediaan dalam Proses.
            Berikut ini diilustrasikan arus biaya didalam sistem akuntansi biaya pesanan.
1. Pembelian Bahan Baku dan Bahan Penolong.
            Anggaplah bahwa selama bulan juni 1996 dibeli bahan baku dan bahan penolong seharga Rp 22.000.000,-. Potongan pembelian, retur pembelian dan pengurangan harga serta transaksi-transaksi lain yang berhubungan dengan pembelian tersebut diabaikan dalam contoh ini. Maka ayat jurnal atas transaksi tersebut adalah :
            Persediaan Bahan Baku dan Penolong.................Rp 22.000.000
                        Hutang Dagang........................................................Rp 22.000.000
Ayat jurnal tersebut diatas merupakan gabungan transaksi selama satu bulan, namun setiap terjadi kali terjadi transaksi seharusnya dilakukan jurnal.
2. Pemakaian Bahan Baku dan Penolong.
            Anggaplah bahwa selam bulan juni 1996 pemakaian bahan baku dan bahan penolong masing-masing berjumlah Rp 15.000.000,- dan Rp 5.000.000,-. Maka ayat jurnal penggunaan bahan baku dan penolong (selama bulan juni) ini adalah sbb:
            Persediaan dalam proses.....................Rp 15.000.000
            Biaya Overhead....................................Rp   5.000.000
                        Persediaan Bahan Baku dan Penolong.............Rp 20.000.000
Pemakaian bahan baku dibuatkan suatu bukti (dokumen) yang disebut Bukti pengeluaran bahan (Matrial’s Requisition). Dan atas dasar dokumen ini maka penggunaan bahan baku dan penolong dicatat didalam buku yang disebut Buku Pengeluaran Bahan (Matrial’s Requisition Journal). Bentuk dokumen dan buku tersebut dapat dilukiskan sbb:
Bukti Pengeluaran Bahan
No Pesanan: 101                                                            No Bukti : 001
                                                                                        Tanggal : 2/ 6/ 1996
No.
Jenis
Nama Bahan
Jml
Unit
Harga Pokok
Perunit
Total
K.47
Kertas HVS 80 gr
20 rim
Rp 25.000
Rp 500.000,-
T.28
Tinta parker
10 btl
Rp 15.000
Rp 150.000,-











Rp 650.000,-

Diminta oleh   :
Disetujui oleh  :
Dikeluarkan oleh :
Diterima oleh      :


Buku Pengeluaran Bahan
Tgl
No.Bukti
Keterangan
Bahan Baku
Bahan Penolong
Jun   2
001
Pekerjaan No: 101
Rp 500.000
Rp 150.000
4
002
Pekerjaan No: 102
Rp 300.000
Rp  50.000
5
003
Pekerjaan No: 103
Rp 800.000
Rp 250.000
5
004
Pekerjaan No: 101
Rp 100.000
Rp  50.000







Dst




3. Pemakaian Tenaga Kerja
            Anggaplah bahwa gaji dan upah yang telah dan yang masih harus dibayar selama bulan juni 1996 berjumlah Rp 13.000.000. Jumlah ini terdiri dari gaji dan ipah langsung Rp 10.000.000,- dan buruh tidak langsung Rp 3.000.000,-
            Maka atas transaksi ini dilakukan jurnal sbb:
            Gaji dan Upah.......................Rp 13.000.000
                        Kas/Hutang........................................Rp 13.000.000,-

4. Pembebanan Biaya Gaji dan Upah
             Alokasi biaya gaji dan upah kedalam biaya produksi adalah sbb:
            Persediaan Dalam Proses..................Rp 10.000.000
            Biaya Overhead...................................Rp  3.000.000
                        Gaji dan Upah....................................................Rp 13.000.000
5. Pemakaian Biaya Overhead
            Jika selama bulan juni biaya overhead yang masih harus dibayar adalah; biaya mandor Rp 1.000.000,- biaya listrik, air, dan telepon Rp 500.000,- dan biaya penyusutan Rp 5.000.000,- serta biaya overhead lainnya Rp 4.000.000,- maka ayat jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah :
            Biaya Overhead...................Rp 10.500.000
                        Kas/Hutang.......................................Rp 5.500.000,-
                        Akumulasi Penyusutan.....................Rp  5.000.000,-
6. Pembebanan Biaya Overhead
Jika pembebanan biaya overhead didasarkan pada taksiran biaya buruh misalkan 80% maka overhead yang dibebankan adalah sebesar 80% x jml upah buruh, maka 80% x  Rp 13.000.000 = Rp 10.400.000,-. Maka ayat jurnal atas pembebanan overhead adalah :
            Persediaan dalam Proses.......................Rp 10.400.000
                        Biaya Overhead...................................................Rp 10.400.000,-
Setelah ayat jurnal ini maka pada perkiraan overhead akan terlihat selisih antara pembebanan biaya overhead dan biaya overhead sesungguhnya :
                                                            F O H
                                         Rp 10.500.000  Rp 10.400.000

Selisih Rp 100.000 dapat dibebankan ke harga pokok penjualan dengan jurnal :
            Harga pokok Penjualan ........................Rp 100.000
                        Biaya Overhead........................................Rp 100.000

7. Pencatatan Harga Pokok Barang Jadi
            Nggaplah bahwa pekerjaan yang telah diselesaikan adalah sebesar Rp 30.000.000, maka ayat untuk mencatat penyelesaian ini adalah :
Persediaan barang jadi..........................Rp 30.000.000,-
                        Persediaan dalam Proses..................................Rp 30.000.000

8. Pencatatan Harga Pokok Penjualan
            Jika selam bulan juni telah dijual produk tersebut sebesar Rp 50.000.000, dengan harga pokok Rp 25.000.000 maka ayat jurnal untuk mencatat transaksi ini :
            Harga Pokok Pesanan.....................Rp 25.000.000
                        Persediaan barang jadi......................Rp 25.000.000

5. Kartu Pekerjaan
            Job order cost sheet atau kertas kerja pesanan dapat disusun untuk masing-masing no. Pesanan seperti contoh berikut :
Order No : 101                                     Dikerjakan tgl :
Spesifikasi :                                          Diselesaikan tgl :
Jumlah :
Jenis Biaya
Jumlah
Keterangan
1. Bahan Baku
Rp 15.000.000

2. Tenaga Kerja
Rp 10.000.000

3. Overhead
Rp 10.400.000

   Total
Rp 35.400.000


 

6. SEKILAS SISTEM PROSES

PENDAHULUAN

            Pada sistem biaya proses, biaya diakumulasikan menurut masing-masing departemen, pusat biaya atau proses.  Biaya  unit rata-rata untuk satu hari, seminggu atau setahun diperoleh dengan membagi biaya departemen dengan jumlah unit (ton, kg dsb) yang dihasilkan selama periode bersangkutan.
            Sistem biaya pemerosesan ditetapkan di mana produksi dilakukan dengan metode produksi massal atau proses secara sinambung. Diantara industri yang menerapkan sistem biaya proses misalnya industri kertas, baja, bahan kimia, dan tekstil. Aneka industri yang menerapkan proses perakitan seperti industri mobil, mesin cuci, dan alat-alat listrik pada umumnya juga menerapkan sistem biaya proses.

AKUMULASI BIAYA


Dalam suatu biaya proses, harus dikembangkan prosedur untuk :
(1)      Mengumpulkan biaya bahan, upah tenaga kerja dan overhead pabrik menurut  departemennya.
(2)      Menentukan biaya unit untuk masing-masing departemen
(3)      Mengalihkan biaya dari satu departemen ke departemen berikutnya
(4)      Membebankan biaya kepada pekerjaan dalam proses

Untuk mudahnya, pembahasan tentang akumulasi biaya akan difokuskan kepada masing-masing departemen, dan bukan kepada pusat-pusat biaya (cost centers) atau masing-masing proses. Namun ada kemungkinan terdapat dua atau lebih jenis proses yang diselenggarakan pada satu departemen (dan karena itu akan terdapat lebih dari satu pusat biaya dalam satu departemen). Dalam keadaan demikian ada kemungkinan biaya akan banyak bervariasi pada masing-masing pusat biaya, sehingga dalam praktek biaya itu diakumulasikan menurut pusat-pusat biaya ataupun menurut masing-masing departemennya.

Akumulasi biaya dalam buku perkiraan diperincikan dibawah ini :
1.        Biaya Bahan (material cost). Pada suatu sistem biaya proses, banyaknya permintaan (requitions) atau pembebanan biaya bahan jauh lebih kecil dari pada sistem biaya pekerjaan pesanan, karena biaya beberapa industri, tipe dan kuantitas bahan dapat dispesifikasikan dengan rumus atau spesifikasi rekayasa (engineering specification). Bilamana terdapat penggunaan bahan-bahan yang sama selama terus menerus, maka jumlah penggunaan per hari atau per minggu dapat diperoleh dari laporan penggunaan (consumption reports) dan bukan terutama dari surat-surat permintaan bahan. Maka ayat jurnal untuk pembebanan biaya bahan akan menjadi :

Barang dalam proses, bahan , Dept. A 21.000
                           Bahan baku                                                     21.000

Ada sementara perusahaan yang menggunakan ayat jurnal yang agak berbeda yaitu :

Bahan dalam proses, Dept. A  21.000
                           Gudang                                               21.000

2.        Biaya tenaga kerja. Data akumulasi biaya upah menurut departemen juga kurang terperinci dibandingkan dengan pengumpulan biaya menurut masing-masing pekerjaan pada sistem biaya pekerjaan pesanan. Biaya tenaga kerja masing-masing departemen dapat diikhtisarkan dalam jurnal pembebanan upah sebagai berikut :

Pekerjaan dalam proses, Tenaga kerja-Dept. A  12.000
Pekerjaan dalam proses, Tenaga kerja-Dept. B    4.000
         Upah                                                                         16.000

Ayat ini juga dapat ditulis sebagai berikut :
  
     Tenaga kerja dalam proses-Dept. A   12.000
     Tenaga kerja dalam proses-Dept. B     4.000
              Upah                                                      16.000

3.        Biaya Overhead Pabrik. Terdapat banyak perbedaan antara kalkulasi biaya pekerjaan pesanan dan kalkulasi biaya proses dibandingkan dengan perbedaan biaya bahan dan tenaga kerja terutama pada biaya overhead. Pada umumnya industri yang produksinya mass product akan lebih tepat menerapkan biaya proses, karena produksinya dihasilkan untuk persediaan dan bukanlah untuk memenuhi suatu pesanan khusus. Ayat jurnal pembebanan overhead adalah :

              Barang dalam proses, Overhead pabrik –Dept. A  18.000
              Barang dalam proses, Overhead pabrik –Dept. B    8.000
                        Pengendalian overhead pabrik                                  26.000

Cara lain adalah :
       
              Overhead dalam proses-Dept. A  18.000
              Overhead dalam proses-Dept. B    8.000
                        Overhead Pabrik                              26.000

            Apabila biaya overhead pabrik terakumulasi secara seimbang sepanjang tahun, ataupun dengan taraf normal dari bulan ke bulan, kebanyakan perusahaan membebankan biaya overhead yang sebenarnya. Namun, bilamana terdapat fluktuasi dalam produksi dari bulan ke bulan, hal ini menyebabkan kekeliruan (distorsi) jumlah overhead yang dibebankan pada produksi. Maka seringkali digunakan suatu tingkat overhead yang tetap, yang didasarkan kepada kegiatan (operation) tahunan, hal ini dilakukan untuk menghindarkan kesulitan yang timbul karena pembebanan overhead yang didasarkan kepada jumlah produksi bulanan yang berakibat pada distorsi pembebanan overhead.

PENGALIHAN ANTAR DEPARTEMEN


            Sistem biaya proses biasanya diterapkan apabila barang-barang produksi memerlukan beraneka jenis kegiatan, yang diselenggarakan pada dua atau lebih banyak departemen atau pusat biaya. Misalnya, kegiatan awal diselenggarakan pada Dept. A seperti misalnya pembubutan atau pembauran bahan. Setelah proses itu selesai, unit-unit dialihkan (transfer) kepada Dept. B, misalnya, untuk proses perakitan atau penyelesaian. Lalu setelah selesai, barang dialihkan kepada persediaan barang jadi (Finished goods inventories).


Contoh 1  (dalam ribuan rupiah)

            PT cahaya mebuat produk X yang memerlukan pemerosesan pada Dept. A dan Dept. B. Selama bulan Juli 2002, 5.000 unit dimulai produksinya yang selesai dalam sebulan itu. Biayanya adalah sebagai berikut : Bahan Rp. 20.000, upah langsung Rp. 18.000 dan overhead pabrik Rp. 12.000. perhitungannya adalah sbb. :

Pekerjaan dalam proses- Dept. A

                                                   Jumlah Biaya      Biaya Unit
Bahan masuk produksi                        Rp. 20.000             Rp.   4
Upah tenaga kerja langsung         Rp. 18.000          Rp.   3,6
Overhead pabrik                            Rp. 12.000          Rp.  2,4

Jumlah biaya                                Rp. 50.000          Rp. 10


Biaya unit setiap kali diperoleh dengan membagikan jumlah biaya dengan jumlah unit yang dibuat. Setelah selesai pemerosesan pada Dept. A, 5.000 unit itu dialihkan kepada Dept. B

ARUS UNIT

            Arus unit (dalam ukuran kuantitas) sepanjang suatu sistem biaya proses dapat diikhtisarkan dengan rumus persamaan sbb. :
                  Unit dalam proses awal
(+) unit yang mulai masuk proses atau yang ditransfer
(=)    unit yang dialihkan keluar
     + unit yang selesai dan masih tertahan
     + unit dalam proses akhir

            Jika diketahui 4 unsur seperti pada persamaan itu, maka unsur yang belum diketahui dapat dihitung berdasarkan rumus persamaan itu. Perlu diingat bahwa belum tentu semua komponen akan terdapat pada setiap situasi (misalnya tidak selalu terdapat unit dalam proses awal periode bersangkutan ataupun unit yang selesai dan masih tertahan pada akhir periode itu).

Contoh 2

            Asumsikan bahwa PT Sentosa mempunyai 3.000 unit dalam proses awal bulan, dan dimasukkan 10.000 unit ke dalam proses lalu terdapat 2.000 unit dalam proses pada akhir bulan. Seluruh unit yang selesai telah dialihkan kepada Dept. B. Maka jumlah unit yang dialihkan dihitung sbb. :

  3.000  Unit dalam proses awal
10.000  Unit dimasukkan dalam proses
13.000  Unit tersedia
 (2.000)  Unit masih dalam proses
11.000  Unit dialihkan kepada Dept. B


EKUIVALEN UNIT DALAM PRODUKSI
            Jarang terjadi semua unit yang dimasukkan dalam proses selama sebulan akan selesai dan dialihkan keluar pada akhir bulan. Pada umumnya terdapat persediaan awal dan persediaan akhir dari barang dalam proses yang berada pada berbagai tingkat penyelesaian pada setiap akhir bulan.
            Untuk membebankan biaya bilamana terdapat persediaan barang yang baru diselesaikan sebagian, seluruh unit (termasuk persediaan awal, barang yang telah dialihkan dan persediaan akhir) harus dapat dinyatakan dalam bilangan unit yang telah selesai. Hal ini dilakukan dengan bantuan suatu angka sebutan (common denominator), yang disebut unit ekuivalen produksi atau ekuivalen produksi. Dengan menggunakan angka ekuivalen produksi tsb., biaya unit untuk suatu bulan akan mencakup biaya penyelesaian semua pekerjaan dalam proses yang terdapat pada awal bulan, serta biaya yang telah dikeluarkan sampai saat itu berkenaan dengan pekerjaan dalam proses pada akhir periode tsb.
            Lazimnya diperlukan 2 rincian yang terpisah dari ekuivalen produksi, pertama, mengenai bahan baku. kedua, mengenai biaya konversi (tenaga kerja dan overhead) karena tingkat penyelesaian kedua unsur ini jarang sekali sama.
            Ada 2 metode pokok untuk mengkalkulasikan biaya persediaan pekerjaan dalam proses, yaitu : (1) perhitungan Average (biaya rata-rata) dan (2) kalkulasi biaya FIFO (First In First Out = masuk awal, keluar awal). Diantara keduanya terdapat perbedaan dalam format atau prosedurnya; perbedaan terutama berkaitan dengan cara penanganan persediaan barang dalam proses.

Perhitungan Biaya Rata-rata. Menurut metode ini, yang disebut juga kalkulasi biaya rata-rata terbobot (weighted average costing), persediaan awal barang dalam proses disatukan (mergered) dengan biaya selama periode yang baru, dan diperoleh angka rata-rata yang baru. Dengan cara demikian, akan terdapat hanya satu angka rata-rata untuk barang yang telah diselesaikan.
            Unti ekuivalen produksi yang diperoleh dengan kalkulasi biaya rata-rata dapat dijabarkan sbb. :

            Unit yang selesai (termasuk yang telah dialihkan dan yang masih tertahan) + (persediaan akhir barang dalam proses x tingkat penyelesaian (%))
            Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa seluruh persediaan awal barang dalam proses telah diselesaikan selama periode bersangkutan.

Contoh 3


Data berikut menyangkut kegiatan pada Dept. A selama bulan Mei :

                                                                                   Unit

Persediaan awal barang dalam proses
   (100% selesai unsur bahan dan 70 %
     selesai biaya konversi)..................................      16.000
Barang masuk proses........................................    172.000
Unit yang ditransfer ke Dept. B..........................    160.000
Unit selesai masih tertahan................................        8.000
Persedaiaan akhir barang dalam proses
   (100% selesai unsur bahan dan 60 %
     selesai unsur biaya konversi)..........................    20.000




Lalu ekuivalen produksi pada Dept. A untuk bulan Mei dengan menerapkan kalkulasi biaya rata-rata dijabarkan sbb. :

                                                                Bahan        Biaya Konversi

Unit selesai :
     Ditransfer ke Dept. B.......................  160.000            160.000
     Selesai dan tertahan.......................      8.000                8.000
Persediaan akhir, jumlah unit selesai :
     Unsur bahan (100%).......................    20.000
     Biaya konversi (60%)......................                              12.000
Ekuivalen produksi                                  188.000            180.000

            Dalam metode ini persediaan awal barang dalam proses yang telah diselesaikan dalam bulan sebelumnya ditambahkan pada jumlah produksi bulan berjalan. Akibatnya ialah sebagian persediaan awal barang dalam proses untuk bulan sebelumnya dihitung 2 kali sebagai persedian akhir barang dalam proses pada bulan Mei.

Biaya FIFO. Dalam metode ini biaya persediaan awal barang dalam proses dipisahkan dari biaya tambahan yang dibebankan dalam periode yang baru. Dengan demikian akan terdapat 2 macam biaya unit untuk periode bersangkutan yaitu : (1) persediaan awal barang dalam proses yang diselesaikan dan (2) unit yang dimulai dan diselesaikan selama periode yang sama.
            Menurut sistem FIFO persediaan awal barang dalam proses diasumsikan telah diselesaikan dan ditransfer. Lalu persediaan akhir barang dalam proses diasumsikan bersasal dari barang yang dimasukkan kedalam produksi selama periode itu. Dengan demikian persediaaan akhir barang dalam proses diperhitungkan atas dasar biaya unit periode tsb., sesuai dengan tingkat penyelesaiannya. Dalam penghitungan biaya FIFO unit ekuivalen dijabarkan sbb.

Unit  Selesai (yang ditransfer dan yang tertahan)
(-)  Persediaan awal barang dalam proses (tanpa memperhatikan tingkat
      penyelesaian)
(+)  Jumlah biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan persediaan awal
      barang dalam proses
(+)  Jumlah biaya penyelesaiaan persedaiaan akhir barang dalam proses

 

 

Contoh 4

            Berdasarkan data yang sama dengan contoh 3, dijabarkan ekuivalen produksi untuk Dept. A dengan metode FIFO sbb:    
Unit                                                                                    

                                                                        Bahan         Konversi

Unit selesai :
     Ditransfer ke Dept. B                                160.000            160.000
     Selesai dan tertahan                                    8.000                8.000
(-) Persediaan awal barang dlm proses         (16.000)            (16.000)
 Dimulai dan diselesaikan dlm periode ini     152.000             152.000
Penyelesaiaan unit persediaan awal :
     Bahan (0%)                                                          0
     Biaya konversi (30%)                                                              4.800 
                                                                       152.000             156.800
Jmh biaya penyelesaian persediaan akhir
     Bahan (100%)                                              20.000
     Biaya konversi (60%)                                                            12.000                 
Ekuivalen produksi                                          172.000            168.800

Ekuivalen produksi berdasarkan metode FIFO dapat pula dihitung dengan cara mengurangi sebagian persediaan awal barang dalam proses yang telah diselesaikan dalam bulan sebelumnya dari jumlah produksi ekuivalen menurut metode kalkulasi biaya rata-rata :

                                                                              Unit

                                                                Bahan             Konversi

Ekuivalen produksi, perhitungan
   biaya rata-rata (contoh 3)                   188.000              180.000
(-) persediaan awal brg dlm proses
   (diselesaikan selama bln sebelumnya)
    Bahan (100%)                                     (16.000)
    Biaya konversi (70%)                                                     (11.200)
Ekuivalen Produksi, biaya FIFO             172.000              168.800

            Metode FIFO lebih unggul daripada metode biaya rata-rata, karena ia mengoreksi hitungan ganda yang diakibatkan oleh pengalihan (carry over) jumlah barang dalam proses dari bulan sebelumnya. Namun sekalipun terdapat cacat bahwa pada metode kalkulasi biaya rata-rata tsb.,  metode ini umumnya diterapkan dalam dunia usaha, karena perhitungan ganda itu hanya menyangkut sebagian kecil yang tak berarti dari keseluruhan jumlah unit yang diproduksi.
LAPORAN BIAYA PRODUKSI
            Laporan biaya produksi menunjukkan seluruh biaya yang dapat dibebankan ke suatu departemen atau suatu pusat biaya (cost center) untuk suatu periode tertentu. Karena tujuan utamanya ialah pengendalian biaya, maka perlu disediakan data mendetail mengenai jumlah biaya dan biaya unit. Lazimnya perincian biayanya mencakup setiap unsur biaya pada masing-masing departemen (atau masing-masing pusat biaya). Laporan itu dapat juga digunakan untuk dasar pencatatan (jurnal) pada akhir bulan.

Pada umumnya laporan biaya produksi mencakup 4 bagian :

Kuantitas. Bagian ini melukiskan arus fisik dari unit-unit keluar masuk pada masing-masing departemen.

Produksi Ekuivalen. Bagian ini menunjukkan: (1) unit dalam proses, yang diubah dalam bilangan unit selesai dan (2) unit selesai yang aktual.

Biaya yang harus diperhitungkan (cost to account for). Dalam bagian ini diperhitungkan biaya : (1) barang dalam proses pada awal periode bersangkutan, (2) barang yang ditransfer masuk dari departemen terdahulu dan (3) barang yang ditambahkan pada departemen bersangkutan.

Biaya yang telah diperhitungkan (cost accounted for). Dalam bagian ini diperhitungkan penggunaan biaya yang dibebankan kepada departemen bersangkutan: (1) ditransfer keluar departemen lainnya atau ke persediaan barang jadi (2) telah diselesaikan dan tertahan atau (3) masih dalam proses pada akhir periode bersangkutan. Perlu diperhatikan bahwa jumlah biaya yang harus diperhitungkan mutlak harus sama dengan biaya yang telah diperhitungkan.
            Laporan biaya produksi ada yang sangat terrinci, dan yang hanya menunjukkan jumlah totalnya saja, tergantung pada kebutuhan perusahaan atau keinginan manajemen.

Konsep Dasar Biaya


A.                            Penggerak, pembebanan biaya, dan Objek Biaya.

Langkah pertama yang sangat penting untuk memperoleh keunggulan kompetitif adalah mengidentifikasi penggerak biaya utama dalam perusahaan atau organisasi.

Penggerak biaya merupakan faktor yang memberi dampak pada perubahan tingkat biaya total. Contohnya, untuk mendapat kepemimpinan biaya yang rendah dalam produksi, P&G memperhatikan dengan saksama faktor desain dan produksi yang menimbulkan biaya produk-produknya. Perbaikan desain dibuat jika diperlukan dan pabrik dirancang dan diotomatisasi untuk mencapai tingkat efisiensi tertinggi dalam pemakaian bahan baku, tenaga kerja dan peralatan. Untuk perusahaan yang tidak memiliki keunggulan dalam biaya, manajemen dalam hal penggerak biaya mungkin bukan merupakan hal yang sangat penting, tetapi perhatian terhadap penggerak biaya utama memberikan kontribusi secara langsung pada keberhasilan perusahaan.Perusahaan mengeluarkan biaya jika mengunakan sumber daya untuk tujuan tertentu. Contohnya, perusahaan yang memproduksi peralatan dapur, mempunyai biaya bahan baku seperti logam, dan baut, biaya tenaga kerja dan biaya-biaya lainnya. Sering kali biaya dikumpulkan ke dalam kelompok tertentu disebut dengan tempat penampungan biaya. Ada banyak cara yang digunakan untuk mengelompokkan biaya-biaya individual yang dapat digunakan untuk mendefinisikan tempat penampungan biaya antara lain berdasarkan jenis biaya(biaya tenaga kerja langsung dalam satu tempat penampungan dan biaya bahan baku dalam tempat penampungan biaya lainnya), berdasarkan sumber asalnya (departemen 1, departemen 2 dan seterusnya) atau berdasarkan pertanggung jawaban (manajer 1, manajer 2 dan seterusnya. Contohnya departemen perakitan atau departemen teknik produksi mungkin saja diperlukan sebagai suatu tempat penampungan biaya.

Objek biaya adalah berbagai produk, jasa dan unit organisasi dimana biayadibebankan untuk beberapa tujuan manajemen. Konsep objek biaya merupakan konsep yang sangat luas. Konsep tersebut meliputi batch produk, jasa departemen dan pelanggan. Setiap hal dimana biaya dapat ditelesuri dan mempunyai peran utama dalam strategi manajemen dianggap sebagai objek biaya.

A.1 Pembebanan dan Alokasi biaya : Biaya Langsung dan Tidak Langsung

Pembebanan biaya merupakan proses pembebanan biaya-biaya kedalam tempat penampungan biaya atau dari tempat penampungan biaya ke objek biaya. Biaya langsung dapat dengan mudah dan ekonomis ditelusuri secara langsung kepenampungan biaya atau objek biaya. Sebagai contoh, biaya bahan baku yangdiperlukan untuk produk tertentu adalah suatu biaya langsung sebab dapat ditelusuri secara langsung ke produk bersangkutan. Biaya bahan baku dikumpulkan dalam tempat penampungan biaya (Departemen Produksi), kemudian ditelusuri kesetiap produk yang dihasilkan yang menjadi objek biaya.

Sebaliknya tidak ada cara yang mudah dan ekonomis menelusuri biaya tidak langsung dari biaya ke tempat penampungan biaya atau dari tempat penampungan biaya ke objek biaya. Biaya pengawasan karyawan pabrik dan biaya penanganan bahan baku adalah contoh biaya yang umumnya tidak dapat ditelusuri ke produk-produk individual, oleh karena itu merupakan biaya tidak langsung produk-produk tersebut. Karena biaya tidak langsung tidak dapat ditelusuri ke tempat penampungan biaya atau objek biaya, pembebanan biaya untuk tidak langsung dilakukan dengan menggunakan penggerak biaya.

Pembebanan biaya tidak langsung ke tempat penampungan biaya dan objek biaya disebut alokasi biaya yaitu suatu bentuk pembebanan dimana penulusuran langsung tidak mungkin dilakukan sehingga dipakai penggerak biaya. Penggerak biaya yang digunakan untuk mengalokasikan disebut dengan dasar alokasi.

1.1  Biaya Bahan Baku Langsung dan Tidak Langsung

Biaya bahan baku langsung adalah biaya bahan baku pada produksi atau objek biaya lainnya tetapi ditambah beban transportasi dan biasanya juga termasuk penyisihan yang wajar untuk unit barang sisa dan cacat atau rusak. Selain itu biaya dari bahan baku yang digunakan dalam produksi tetapi bukan bagian dari produk yang sudah jadi disebut biaya bahan baku tidak langsung.Contohnya meliputi perlengkapan yang digunakan karyawan pabrik seperti potongan kain dan alat-alat yang kecil.

1.2  Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung

Biaya tenaga kerja langsung meliputi tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi produk atau jasa ditambah sebagian jam kerja tidak produktif yang normal dan tidak dapat dihindari seperti waktu istirahat dan sholat.

Biaya tenaga tidak langsung mempunyai peran sebagai pendukung proses produksi. Sebagai contoh tenaga kerja untuk pemeliharaan dan perbaikan peralatan adalah biaya langsung bagi departemen produksi dimana peralatan tersebut berada,tetapi merupakan biaya tidak langsung dari produk yang diproduksi di departemen tersebut.

1.3  Biaya Tidak Langsung Lainnya

Selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya tidak langsung lainnya juga diperlukan dalam memproduksi suatu produk atau jasa. Antara lain adalah biaya fasilitas, peralatan yang digunakan untuk memproduksi produk atau jasa dan peralatan pendukung lainnya seperti yang digunakan untuk penanganan bahan baku.

  1. 2. Jenis-Jenis Penggerak Biaya

Sebagian besar perusahaan khususnya yang menggunakan strategi kepemimpinan biaya, menggunakan manajemen biaya untuk mempertahankan atau memperbaiki posisi kompetititf mereka. Manajemen biaya memerlukan pemahaman yang sangt baik mengenai bagaimana biaya total dari objek biaya berubah ketika penggerak biaya berubah. Terdapat empat jenis penggerak biaya yaitu berdasarkan aktivitas, berdasarkan volume, struktur dan pelaksanaan.

2.1 Penggerak Biaya Berdasarkan Aktivitas

Penggerak biaya berdasarkan aktivitas ditentukan dengan menggunakan analisis aktivitas, yaitu deskripsi terinci dari aktivitas-aktivitas spesifik yang dilakukan dalam operasi perusahaan. Deskripsi tersebut meliputi setiap tahap dalam proses pembuatan produk atau penyediaan jasa. Untk setiap aktivitas, ditentukan penggerak biayanya untuk menjelaskan bagaimana biaya itu terjadi ketika aktivitas berubah.Deskripsi terinci dari aktivitas perusahaan membantu perusahaan untukmencapai tujuan-tujuan strategis dengan mengembangkan biaya-biaya yang lebih akurat untuk produk atau jasanya. Analisis aktivitas juga membantu meningkatkan pengendalian manajemen dan operasional perusahaan, karena kinerja pada level yang terinci dapat dimonitor dan dievaluasi.


2.2 Penggerak Biaya Berdasarkan Volume

Banyak jenis biaya yang berdasarkan volume, seperti bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung. Total biaya yang berdasarkan volume mempunyai hubungan yang tidak linera dengan penggerak biaya yang berdasarkan volume, yaitu jumlah output produk atau jasa. Pada tingkat penggerak biaya yang rendah, biaya meningkat dengan tingkat pertambahan yang menurun, yang sebagian disebabkan oleh faktor-faktor seperti penggunaan sumber daya yang makin efisien dan produktivitas yang tinggi akibat proses pembelajaran. Pada tingkat penggerak biaya yang lebih tinggi, biaya mulai meningkat pada tingkat pertambahan yang meningkat, yang sebagian disebabkan oleh ketidakefisienan, yaitu beroperasi mendekati batas kapasitas, semakin kurang efisien sumber daya yang digunakan, maka memerlukan waktu kerja lembur danseterusnya.

2.2.1 Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Biaya total terdiri atas biaya variabel dan biaya tetap. Biaya Variabel adalah perubahan pada biaya total yang dihubungkan dengan tiap perubahan pada jumlah output. Contoh yang lazim dari biaya variabel adalah biaya bahan baku dan jumlah biaya tenaga kerja langsung. Biaya tetap adalah bagian dari biaya total yang tidak berubah meskipun jumlah penggerak biaya berubah dalam rentang yang relevan. Penentu apakah suatu biaya merupakan biaya variabel tergantung pada sifat dari objek biaya. Dalam perusahaan manufaktur, objek biaya biasanya produk. Tetapi dalam perusahaan jasa, objek biaya sering kali sulit untk didefinisikan karena jasa bersifat kualitatif dan kuantitatif.

2.2.2 Biaya Bertahap

Disebut biaya bertahap jika biaya tersebut berubah sehubungan dengan perubahan pada penggerak biaya, tetapi secara bertahap. Biaya bertahap merupakan karakteristik dari tugas-tugas yang bersifat klerikal tertentu seperti proses pemenuhan pesanan dan pemrosesan terhadap adanya klaim tertentu. Contohnya, jika petugas gudang dapat memenuhi 100 pesanan setiap harinya,  maka 10 petugas yang dibutuhkan untuk memproses sekitar 1.000 pesanan, maka jumlah petugas harus ditambahkan menjadi 11 dan seterusnya. Tahapan disini berhubungan dengan tingakatan tertentu dari penggerak biaya dimana dibutuhkan tambahan petugas, akibatnya setiap tahap berhubungan dengan suatu petugas tambahan.

2.2.3 Biaya Per-Unit dan Biaya Marginal

Biaya per unit adalah biaya produksi total (bahan baku, tenaga kerja, dan overhead) dibagi jumlah unit output. Konsep ini berguna dalam menetapkan harga dan mengevaluasi produk. Untuk dapat memahami biaya per unit dengan semestinya, kita harus memisahkan yang dimaksud dengan biaya variabel per unit yaitu biaya yang tidak berubah seiring dengan perubahan jumlah output, dengan biaya tetap per unit yaitu biaya yang berubah seiring dengan perubahan jumlah output.

Biaya marginal digunakan untuk menjelaskan biaya tambahan yang terjadi ketika setiap penggerak biaya bertambah sebanyak satu unit. Dengan asumsi biaya bersifat linear pada rentang yang relevan.

3.2. Penggerak Biaya Berdasarkan Struktur dan Pelaksanaan

Penggerak biaya berdasarkan struktur adalah bersifat strategis karena meliputi rencana dan keputusan yang mempunyai dampak jangka panjang. Sedangkan penggerak biaya berdasarkan pelaksanaan adalah faktor-faktor yang dapat diatur perusahaan dalam pembuatan keputusan jangka pendek untuk menurunkan biaya.Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
  1.  Keterlambatan para pekerja. Apakah para karyawan berdedikasi terhadap perbaikan berkelanjutan dan mutu. Komitmen dari para pekerja ini akan menurunkan biaya. Perusahaan yang memiliki hubungan dengan para pekerja yang kuat.
  2. Desain proses produk. Dapatkah tata letak dari peralatan dan proses serta penjadwalan ulang produksi diperbaiki. Mempercepat arus produk dalam perusahaan dapat menurunkan biaya.
  3. Hubungan dengan pemasok. Dapatkah biaya, mutu atau pengiriman bahan baku dan suku cadang yang dibeli diperbaiki untuk menurunkan biaya secara keseluruhan.

  1.  Konsep Biaya Untuk Perhitungan Biaya Produk dan Jasa

B.1 Biaya Produk dan Periodik

Persediaan produk bagi perusahaan manufaktur maupun dagang dianggap sebagai aktiva pada neraca. Selama persediaan mempunyai nilai jual, persediaan dianggap aktiva hingga terjual, kemudian biaya dari perusahaan dipindahkan kelaporan laba rugi sebagai harga pokok penjualan yang merupakan beban. Biaya produk bagi perusahaan manufaktur terdiri atas biaya-biaya yangdiperlukan untuk menyelesaikan suatu produk:

1.      Biaya bahan baku langsung. Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi produk yaitu yang secara fisik menjadi bagian dari produk tersebut.
2.      Biaya tenaga kerja langsung. Tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi produk.
3.      Overhead pabrik. Biaya tidak langsung untuk bahan baku, tenaga kerja dan fasilitas yang digunakan untuk mendukung proses produk.

Semua pengeluaran lainnya untuk mengelola perusahaan dan menjual produk dibebankan pada periode pada saat terjadinya, untuk alasan ini, pengeluaran ini disebut biaya periodik. Biaya-biaya yang dibebankan karena perkirakan tidak akan memberikan nilai masa depan, sebaliknya penjualan, persediaan akan memberikan laba dimasa datang. Biaya periodik terutama terdiri atas biaya umum, penjualan dan administrasi yang diperlukan untuk mengelola perusahaan tapi tidak termasuk biaya langsung maupun tidak langsung dalam proses produksi. Biaya periklanan, pemrosesan data, serta gaji eksekutif dan staf adalah contoh dari biaya periodik.


B.2 Perhitungan Biaya Untuk Perusahaan Manufaktur, dagang dan jasa

Langkah pertama dari proses produksi adalah membeli bahan baku. Langkah kedua adalah memasukan ketiga elemen biaya, bahan baku yang digunakan, tenaga kerja dan overhead ke dalam barang dalam proses. Pada langkah ketiga, ketika proses produksi selesai, biaya produksi yang diakumulasi pada akun barang dalam proses dipindahkan ke akun persediaan barang jadi dan dari sanalah ke akun harga pokok penjualan ketika barang terjual. Pada perusahaan dagang proses nya lebih sederhana. Perusahaan membeli barang dagangan dan mencatatnya pada akun persediaan barang dagang. Ketika terjual kemudian dipindahkan ke akun harga pokok penjualan. Perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur mempunyai perbedaan yang sangat signifikan yaitu perusahaan dagang membeli persediaan, sedangkan perusahaan manufaktur memproduksi persediaan menggunakan bahan baku, tenaga kerja dan overhead. Perusahaan manufaktur menggunakan tiga akun persediaan yaitu (1)persediaan bahan baku, dimana biaya dari pasokan bahan baku yang digunakan dalam proses produksi disimpan. (2) Persediaan barang dalam proses, yang berisi semua biaya yang dimasukkan ke dalam proses produksi produk yang sudah berjalan tapi belum selesai pada tanggal laporan keuangan. (3) Persediaan barang jadi, berisi biaya dari barang yang siap untuk dijual. Setiap akun memiliki saldo awal dan akhirnya masing-masing.

C.                Konsep Biaya untuk Perencanaan dan Pembuatan keputusan

C.1. Biaya Relevan

Konsep biaya yang relevan muncul ketika pengambil keputusan harus memilih di antara dua atau lebih pilihan. Untuk menentukan mana pilihan yangterbaik, pengambilan keputusan harus menentukan pilihan mana yang menawarkan keuntungan tertinggi. Oleh karena itu, pengambilan keputusan memerlukan informasi atas biaya yang relevan. Biaya relevan memiliki dua ciri khas yaitu,berbeda untuk setiap pilihan keputusan dan akan terjadi dimasa datang.

C.1.1. Biaya Diferensial

Biaya diferensial adalah biaya yang berbeda untuk setiap pilihan keputusan dan oleh karena itu relevan menjadi pilihan bagi pengambilan keputusan. Biaya diferensial muncul sebagai biaya langsung dalam memilih suatu pilihan (biaya pembelian mesin yang baru merupakan dampak langsung dari pengantian mesin lama) atau sebagai biaya tidak langsung yang dihubungkan dengan pilihannya (mengganti mesin akan menciptakan perbedaan pada biaya tertentu, seperti biaya pemeliharan dan listrik).

C.1.2. Biaya Kesempatan

Biaya kesempatan merupakan manfaat yang hilang karena memilih salah satupilihan sehingga melepaskan manfaat dari pilihan lainnya. Sebagai contoh, jika seseorang manajer penjualan memilih untuk membatalkan suatu pesanan dari pelanggan baru untuk memastikan bahwa pesanan pelanggan yang ada sekarang ini dilayani tepat waktu, keuntungan potensial dari pesanan pelanggan yang tidak dilayani menjadi biaya kesempatan manajer atas keputusan ini. Memastikan kesetiaan dari suatu pelanggan yang ada sulit untuk diukur namun memiliki nilai jangka panjang yang penting, tetapi dalam hal ini kerugian jangka pendek dari pesanan yang baru, sekalipun dapat diukur, tidaklah sedemikian penting.

C.1.3. Sunk Cost

Biaya tertanam adalah biaya yang selama ini telah terjadi atau menjadi komitmen dimasa lalu sehingga tidak relevan untuk pembuatan keputusan karena pembuat keputusan tidak lagi memiliki kebijakan terhadap biaya tersebut.  Sebagai contoh, jika suatu perusahaan membeli mesin baru tanpa garansi dan ternyata rusak dikemudian hari, harga belinya menjadi tidak relevan untuk keputusan sekarang untuk mengganti mesin atau memperbaiki mesin. Hanya bisa masa depan yang relevan dan harga beli dari mesin yang diperoleh tidak mempunyai dampak apapun terhadap biaya masa depan.


C.2. Atribut-atribut dalam Informasi Biaya untuk Pembuatan Keputusan

C.2.1. Akurasi

Pengambilan keputusan yang berkepentingan tidak menggunakan informasia kuntansi tanpa mempertimbangkan potensi ketidakakuratannya. Data yang tidak akurat dengan menyesatkan, menghasilkan kesalahan-kesalahan yang berpotensi menimbulkan biaya. Cara utama untuk memastikan bahwa data untuk pembuatan keputusan adalah akurat yaitu dengan mendesain dan mengawasi sistem yangefektif bagi pengendalian akuntansi internal. Sistem pengendalian internal adalah seperangkat kebijakan dan prosedur yang membatasi dan menjadi pedoman bagi aktivitas-aktivitas dalam pemrosesan data keuangan dengan tujuan mencegah atau mendeteksi kesalahan dan tindakan curang.

C.2.2. Ketepatan Waktu

Informasi manajemen biaya yang tersedia bagi pengambil keputusan harus tepat waktu untuk membantu mengambil keputusan yang efektif. Biaya penundaan biasa sangat besar dalam banyak keputusan seperti dalam memnuhi pesanan mendesak yang dapat hilang jika informasi yang diperlukan tidak tepat waktu. Biaya menemukan cacat kualitas sedini mungkin pada proses produksi dapat menjadi jauh lebih kecil dari pada biaya bahan baku dan tenaga kerja yang harus terbuang percuma sampai cacat tersebut dapat ditemukan kemudian dalam produksi.

C.2.3. Informasi Biaya dan Nilai

Informasi manajemen biaya memilki biaya tertentu dan penekan pada nilai, sedangkan akuntan manajemen adalah seorang ahli dalam informasi tersebut samahalnya seperti professional keuangan lainnya, di antarannya penasihat pajak,perencana keuangan dan konsultan. Akuntan manajemen menyediakan jasa informasi yang memiliki keduanya, yaitu biaya penyusunan dan nilai bagi penggunanya. Biaya penyusunan informasi manajemen biaya seharusnya dapatdikendalikan seperti biaya jasa lainnya dalam perusahaan. Biaya penyusunan ini sangat mungkin dipengaruhi oleh akurasi yang diinginkan, ketepatan waktu dan tingkat agregasi; ketika peningkatan akurasi, ketepatan waktu dan rincian diinginkan, biaya penyusunannya menjadi lebih tinggi.

D.                Konsep Biaya Untuk Pengendalian Manajemen dan Operasional

D.1. Kemampuan untuk Melakukan Pengendalian

Suatu biaya dikatakan dapat dikontrol jika manajer atau karyawan memilikikeleluasaan dalam menentukan terjadinya biaya tersebut atau dapat memengaruhi jumlah secara signifikan dalam periode waktu tertentu, yang biasanya pendek. Sebagai contoh penyedia toko biasanya tidak dapat mengendalikan beban sewa dan asuransi atau fasilitas pabrik, demikian juga manajer divisi biasanya tidak mempunyai keleluasaan dalam menentukan biaya administrasi pada tingkat perusahaan. Sebaliknya karyawan biasanya memiliki pengendalian atas jumlah tenaga kerja dan bahan baku yang digunakan pada areal kerjanya. Biaya-biaya seperti periklanan dan pemeliharaan biasanya berada dibawah pengendalian manajer produksi atau divisi.

D.2. Dampak Preferensi Risiko terhadap Motivasi dan Pembuatan Keputusan

Preferensi risiko manajer adalah penting dalam pengendalian manajemen dan operasional karena preferensi tersebut akan mempunyai dampak yang tidakdiharapkan dan tidak diinginkan pada perilaku manajer. Asumsikan bahwa manajer harus membuat keputusan dimana setiap pilihan akan memiliki hasil yang berbeda dan beberapa hasil tersebut lebih pasti terjadi dari pada lainnya. Preferensi risiko menggambarkan cara setiap individu melihat pilihan keputusan secara berbeda karena mereka memberikan bobot yang berbeda terhadap hasil yang pasti dengan tidak pasti. Risiko yang dihubungkan dengan hasil yang tidak pasti mungkin tidak diinginkan oleh pengambilan keputusan tanpa memperdulikan nilai dari hasil itu sendiri adalah perlu untuk memisahkan nilai dari hasil dengan bobot positif atau negatif yang dihubungkan dengan risiko ketidakpastian.

Referensi :
¡  Blocher.”Manajemen Biaya, penekanan strategis, . penerbit Salemba Empat,2011.”
¡  Hansen & Mowen. ”Manajemen Biaya. . penerbit Salemba Empat,2000.”