Sabtu, 28 November 2020

Analisa Riset Pasar bagi Seorang Enterpreneur


 

Overview (Mitos pada Entrepreneurship) 

Entrepreneurship: merupakan sebuah proses inovasi dan penciptaan usaha baru melalui empat dimensi besar - individu, organisasi, lingkungan, dan proses - yang dibantu dengan kolaborasi jaringan di pemerintahan, pendidikan dan institusi.  Entrepreneur: merupakan suatu katalis perubahan ekonomi dengan menggunakan proses pencarian (dengan tujuan yang jelas), perencanaan yang penuh pertimbangan, serta pertimbangan yang jelas dalam menjalankan proses entrepreneurial. 

Mitos-mitos Entrepreneur 

Ada banyak mitos yang beredar mengenai entrepreneur. Setidaknya ada 10 mitos tentang Entrepreneur menurut Kuratko (2016). 

Mitos 1: Entrepreneur adalah “pelaksana‟ bukan pemikir. Pada dasarnya, mitos ini tidak tepat karena untuk menjadi entrepreneur diperlukan proses berpikir yang panjang. 

Mitos 2: Entrepreneur dilahirkan, bukan diciptakan. Dahulu orang berpikir bahwa menjadi entrepreneur adalah bagian dari takdir, dimana mereka dilahirkan untuk menjadi entrepreneur.  Saat  ini,  campur  tangan  dunia  pendidikan  membantu  banyak  orang (mahasiswa) untuk menjadi entrepreneur baik saat masih menjadi mahasiswa atau setelah mereka lulus. 

Mitos 3: Entrepreneur adalah SELALU penemu. Menjadi entrepreneur seolah identik dengan sebuah penemuan usaha baru. Entrepreneur identik dengan usaha baru, dan saat usaha yang dijalankan bukan sesuatu yang baru, maka seolah hal tersebut bukanlah sebuah proses entrepreneurship. 

Mitos 4: Entrepreneurs adalah mereka yang dianggap tidak bisa sukses secara akademis dan gagal membaur di kehidupan sosial mereka. Orang banyak menyebut Steve Jobs sebagai  contoh “kegagalan”  di  kuliah,  dan  kehidupan  sosialnya  yang  cenderung „berbeda. Pada umumnya, entrepreneur berasal dari semua kalangan, bukan hanya mereka yang gagal secara akademis dan memiliki kesulitan dalam kehidupan sosial mereka, tetapi juga diisi oleh mereka yang dalam kehidupan akademis mereka sukses, serta memiliki kehidupan sosial yang baik. 

Mitos 5: Entrepreneurs harus sesuai dengan „Profile‟ mereka seperti yang dijelaskan dan dituliskan di banyak buku tentang entrepreneur. Pada kenyataaanya, entrepreneur tidak harus sesuai dengan profile mereka, sehingga siapapun bisa menjadi entrepreneurs. 

Mitos 6: Segala kebutuhan Entrepreneurs adalah Uang. Tidak semua hal diukur dengan uang. Banyak pengusaha yang membuat bisnis dengan niatan awal sebagai sarana untuk berbuat kebaikan pada orang lain - yang saat ini dikenal dengan nama social-preneur. 

Mitos 7: Hal yang dibutuhkan oleh Entrepreneur adalah Keberuntungan. Tidak semua hal yang dilakukan oleh entrepreneur berkaitan dengan keberuntungan. Keberuntungan memang diperlukan, akan tetapi perencanaan lebih menentukan dibandingkan dengan keberuntungan semata. 

Mitos 8: Ketidakpedulian pada detail adalah „kebahagian‟ bagi entrepreneur. Pada kenyataanya, detail dalam sebuah perencanaan bisnis menjadi sesuatu yang sangat penting. Perencanaan yang penuh kehati-hatian, bukan ketidakpedulian pada resiko menjadi kunci suksesnya sebuah bisnis. 

Mitos 9:  Entrepreneur  ingin  Mendapatkan  Kesuksesan  tetapi  Harus  Mengalami 

Kegagalan terlebih dahulu. Kegagalan memang memberikan banyak pelajaran bagi siapapun  yang  mengalaminya.  Dengan  belajar  dari  kegagalan  tersebut,  seorag entrepreneur akan bisa mendapatkan kesuksesan yang diinginkan. 

Mitos 10: Entrepreneur adalah Pengambil Resiko yang Ekstreme. Memang benar bahwa seorang entrepreneur adalah pengambil resiko. Akan tetapi, berbeda dengan penjudi, segala resiko yang ada di dunia bisnis telah dihitung dan dipersiapkan antisipasinya sehingga diharapkan imbas yang dialami akan bisa diminimalkan. 


B. Mengapa Entrepreneurs? 

Ada banyak hal yang diharapkan seorang SARJANA saat dia masih di bangku kuliah. Ada yang berpikir bahwa sarjana adalah sebuah gerbang baru menuju kesuksesan. Banyak hal menyenangkan yang dibayangkan oleh seorang mahasiswa saat dia belum lulus sebagai seorang sarjana, misalnya: bahwa dia mampu atau bisa bekerja di sebuah gedung perkantoran yang terkenal di kota besar, di sebuah kawasan bisnis, atau dia bisa bekerja di sebuah perusahaan dengan penampilan yang begitu eksklusif sebagai seorang eksekutif muda, mendapatkan fasilitas mobil pribadi dengan gaji yang tinggi, serta memiliki staff yang bisa diperintahkan untuk mengerjakan banyak hal. Sayang sekali, fakta dilapangan yang terjadi justru sebaliknya. 

Banyak sarjana baru yang harus bekerja di „ruko‟, menggunakan kendaraan pribadi - umumnya motor, bekerja sebagai junior staff yang harus menerima perintah dari senior, bekerja dengan jam kerja yang seolah tanpa akhir, dengan gaji yang hanya cocok untuk mengisi celengan di rumah. 

Fakta lain dari menjadi seorang pekerja adalah: katakanlah gaji Anda adalah sebesar Rp 5.000.000,- perbulan. Apa yang sekiranya bisa dilakukan dengan gaji sebesar itu sebagai seorang „fresh graduated‟? 

Mari kita coba berhitung. 

Sewa Kos                                                 Rp 1.000.000,-

Makan harian (3x Rp 20.000,- x 30 hari) Rp 1.800.000,-

Transportasi/Cicikan motor                         Rp 750.000,-

Perlengkapan mandi dll                                 Rp 250.000,-

Komunikasi (pulsa, internet)                  Rp 200.000,-

Snacks ( Rp 20.000,- x 30 hari)                    Rp 600.000,-

Entertainment (Rp 100.000,- x 4 hari)           Rp 400.000,-

Sub Total                                               Rp 5.000.000,-

Hitung-hitungan tersebut memperlihatkan ilustrasi bagaimana seorang pekerja dengan gaji sebesar Rp 5.000.000 harus mampu membagi dengan perhitungan sedemikian rupa, hingga dia bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Meski demikian, ada satu hal yang terlewat, yaitu TABUNGAN. 


C.  ENTREPRENEURS dan INTRAPRENEURS 

Perbedaan  antara  ENTREPRENEUR  dan  INTRAPRENEUER  menurut  Pinchot adalah bahwa Intrapreneur adalah seorang entrepreneur dalam sebuah organisasi”. Dalam sebuah organisasi, terlebih organsasi besar, jajaran top eksekutif didorong untuk mampu memberikan atau menemukan ide-ide baru dan dapat mengkonversikan ideide tersebut melalui riset yang dilakukan, untuk kemudian dapat dijadikan sesuatu yang menghasilkan bagi organisasi atau perusahaan tersebut. 

D. Apa yang Dibutuhkan oleh Customer? 

Pada umumnya, seorang entrepreneur, terlebih entrepreneur pemula selalu memulai sebuah usaha dengan sebuah pertanyaan yang secara mudah bisa dia jawab sendiri. Dengan demikian, bisa diartikan, semua jawaban yang dia dapatkan adalah jawaban berdasarkan alam pikiran sendiri, yang tentu saja, objektivitasnya sangat diragukan. Pemikiran  umum  yang  ada  pada  entrepreneur,  terutama  para  pemula  adalah bagaimana mereka bisa memulai sebuah usaha, sesuai dengan kemauan mereka, dan menghasilkan uang. Saat kebetulan selera mereka sedang sejalan dengan kemauan pasar, maka mereka termasuk beruntung, karena pasar berjalan searah dan usaha bisa berjalan dengan lancar, bahkan bukan tidak mungkin terbawa angin tren menjadi sesuatu yang “hit”.  Akan tetapi, bagaimana jika keinginan dari para pengusaha pemula ini berlawanan dengan keinginan pasar? Sudah barang tentu, hanya menunggu waktu saja untuk gulung tikar. Seorang pengusaha pemula, dengan kekuatan finansial yang sangat terbatas, dengan kekuatan bisnis yang bahkan belum terdengar, tentu bukan bandingan dari kekuatan pasar yang begitu ganas dan brutal. 

Mengapa disebut ganas dan brutal? 

Setiap hari, selalu ada usaha yang gulung tikar karena tergilas oleh kemauan pasar. Kita lihat disekeliling kita. Berapa banyak usaha yang dalam hitungan bulan sudah tutup? Jikapun bertahan, mungkin sudah berganti bidang usaha? Banyak sekali. Mungkin, salah satu dari Anda pernah mengalami hal sedemikian. 

Hal  tersebut  adalah  contoh  nyata  betapa  kejamnya  pasar.  Pasar  tidak  akan memperhitungkan betapa sebuah usaha dibuat dengan susah payah, dengan curahan pikiran yang lama, dengan kualitas pemikiran yang tinggi, “state of the art”, dan lain-lain. Hukum tak tertulis di pasar adalah, hal yang tidak sesuai dengan selera market akan ditinggalkan, dan selesai. Oleh sebab itu, penting bagi seorang pebisnis, apakah dia professional, pemain lama, atau bahkan pemula sekalipun untuk mengetahui apa yang sebenarnya dimaui oleh pasar atau pelanggan. Apakah cukup dengan mengetahui apa yang mereka mau? Ternyata, tidak. Hal terpenting dalam sebuah bisnis ternyata adalah mengetahui apa yang mereka (pasar) butuhkan. 

Dengan mengetahui kebutuhan mereka, maka kita bisa mengetahui produk atau jasa apa yang bisa kita buat dan ciptakan, untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka, dan lebih jauh lagi, bukan sekedar memenuhi kebutuhan, tetapi sudah sampai pada taraf membuat para pelanggan tergantung dengan produk atau jasa yang sudah kita tawarkan. Dengan demikian, seorang pengusaha mungkin akan bertemu dengan tahap kegagalan sebuah usaha hanya karena ketidakpahamannya pada kemauan market mereka. Ilustrasi sederhana adalah bagaimana seorang lelaki mendekati perempuan. Bagaimana sang perempuan akan tertarik, sementara sang lelaki lebih asyik dengan egonya sendiri dan tidak bisa memahami kemauan dan kebutuhan sang perempuan? 

Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur dalam bukunya Business Model Generation: Book for Visionaries menyatakan bahwa ada paradigma berpikir yang salah dan tidak tepat dari pebisnis-pebisnis lama. Paradigma berpikir model lama ini disebut sebagai “You Organization-centric Business Model design. Model Bisnis Ke”aku”an ini adalah pangkal tolak dari kegagalan sebuah bisnis. Oleh sebab itu, Osterwalder dan Pigneur menawarkan sebuah cara pandang baru dalam menentukan desain bisnis model untuk bisnis yang akan kita bangun. Dari “You Organization-centric” diubah menjadi “Them Constumer-centric business model design. 


Dari penamaannya kita bisa lihat dengan jelas perbedaan dua jenis cara mendesign business model ini. Model kedua dengan jelas menempatkan pelanggan (customer) sebagai bagian tak terpisahkan dari bisnis yang akan dibangun tersebut. 


E. Market Research - Bagaimana Menjalankannya? 

Tipe-tipe Riset Pasar 

Ada dua tipe riset pasar yang dikenal oleh banyak pelaku bisnis. 

1.  Riset Primer 

Riset jenis ini digunakan untuk menganalisis penjualaan yang terjadi saat ini serta efektifitas dari metode yang digunakan untuk penjualan saat ini. Riset primer ini berguna untuk mendapatkan informasi tentang rencana kerja yang akan dilaksanakan perawatan. Informasi yang diberikan adalah informasi tentang kompetitor serta peta kompetisi yang ada saat ini. 

Riset Sekunder 

Riset sekunder bertujuan untuk menganalisa data yang sudah ada, seperti data dari penelitian, data dari statistik, data dari pemerintah, dsb. Dengan data sekunder ini, kita bisa  mengidentifikasikan  kompetitor,  membandingkan  dengan  kompetitor,  serta mengidentifikasikan target segment pelanggan kita. Segment Anda adalah orang yang masuk ke dalam target yang sudah disiapkan sebelumnya. 


Kedua  tipe  diatas  membutuhkan  data  untuk  bisa  diinterpretasikan.  Pertanyaannya, bagaimana cara mendapatkan data? Bagaimana data-data tersebut bisa dikumpulkan? 


Pentingnya Mengumpulkan Data 

Tidak ada satu bisnispun yang bisa sukses tanpa pemahaman mendalam tentang pelanggan, tentang produk atau servis mereka, dan tentang pasar secara umum.  Kompetisi dalam dunia bisnis begitu hebat, sehingga, menjalankan sebuah bisnis tanpa riset pasar mungkin justru akan menguntungkan bagi kompetitor-kompetitor yang sudah ada terlebih dahulu. 


Bagaimana menjalankan Riset Primer? 

Ada beberapa cara yang bisa dilaksanakan untuk mendapatkan informasi tentang banyak hal yang berkaitan dengan keinginan pelanggan. Cara-caranya adalah: 

-   Interview, bisa dilakukan dengan secara langsung mendatangi narasumber, atau bisa dilaksanakan dengan menggunakan bantuan teknologi seperti internet. 

-   Survei. Saat ini survey bisa dilakukan dengan menggunakan jaringan internet (online survey) atau dengan menggunakan surat menyurat 

-   Kuesioner, bisa menggunakan kuesioner online atau menggunakan surat menyurat. 

-   Focus Group Discussion - diskusi bersama-sama dengan topik yang terfokus. 

Ada  beberapa  pertanyaan  yang  perlu  disertakan  dalam  sebuah  Riset  Primer. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah: 

1.  Faktor-faktor apa yang menjadi pertimbangan Anda saat membeli sebuah produk atau menggunakan suatu jasa? 

2.  Apa yang Anda sukai atau tidak sukai dengan produk atau jasa yang saat ini sedang ada di pasaran? 

3.  Di bagian mana yang menurut Anda membutuhkan perbaikan? 

4.  Berapa harga yang menurut Anda layak bagi produk dan jasa seperti ini? 


Tipe-tipe Proses Pengumpulan Data 

Metode Kuantitatif - Metode ini menggunakan analisis matematis dan membutuhkan sampel dalam jumlah banyak. Hasil yang dikemukakan adalah hasil dalam bentuk statistika. 

Hasil  yang  ada  akan  menunjukkan  berbagai  informasi  yang  dapat  membantu memutuskan berbagai hal terkait bisnis, seperti informasi tentang pelanggan potensial yang akan dituju, berapa rata-rata usia mereka, berapa range usia mereka, apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka harapkan, apa yang lebih mereka sukai, dan berbagai informasi lain yang penting dan dianggap bisa mendukung pelaksanaan bisnis tersebut. 


Metode Kualitatif - Metode ini membantu kita mengembangkan dan mencocokkan hasil  dari  metode  kuantitatif.  Metode  ini  sangat  membantu  untuk  mendefinisikan permasalahan yang ada. Metode ini menggunakan metode wawancara untuk bisa mengetahui pendapat dari para pelanggan, nilai-nilai yang mereka harapkan, serta cara pandang mereka terhadap suatu produk atau jasa. Berbeda dengan metode kuantitatif, metode kualitatif tidak membutuhkan banyak sampel. 


Kesalahan yang Umum terjadi pada Riset Pasar 

Ada beberapa hal yang sering terjadi pada Riset Pasar, sering dilakukan, meski sebenarnya  hal  tersebut  adalah  sebuah  kesalahan  yang  berpotensi  menghasilkan kesimpulan yang bias dari riset pasar tersebut. 

Kesalahan-kesalahan tersebut adalah: 

Hanya menggunakan Riset dengan Data Sekunder - Data sekunder tidak bisa memberikan gambaran riil dari kondisi pasar terkini. Data sekunder adalah sebuah data yang didapat dari riset di masa yang telah lalu. Pada saat riset tersebut dilakukan (dimasa lalu), data tersebut mungkin memang valid, akan tetapi, mengingat pasar yang begitu dinamis, mungkin saja kesimpulan yang diberikan oleh data sekunder tersebut sudah tidak lagi relevan. Mempercayai Informasi yang Didapat dari Internet - akses ke internet yang begitu mudah, membuat banyak orang cenderung malas untuk mencari informasi secara detail. Orang cenderung mudah percaya pada sebuah berita, yang sumbernya bahkan belum tentu dapat dipercaya. 

Banyak orang yang menelan begitu saja informasi yang tersaji, tanpa menelaah lebih dalam. Mungkin saja, informasi yang diberikan tersebut benar adanya, tetapi boleh jadi, informasi tersebut merupakan sebuah artikel lama yang diposting ulang oleh orang lain. Akibatnya,  informasi  tersebut  bukan  lagi  sebuah  informasi  yang  akurat.  Untuk memastikan bahwa data tersebut akurat, maka seorang pebisnis yang akan melakukan riset pasar harus mencari data dari sumber-sumber yang akurat seperti dari kampus, biro pusat statistik, atau pusat-pusat bisnis. Hal yang lebih penting, seorang pebisnis harus memastikan bahwa data yang tersaji adalah data terbaru dan masih relevan. 

Hanya melakukan Survey pada orang yang tidak dikenal - pemilik terkadang cenderung hanya melaukan survey kecil - yang kemudian dianggap sebagai riset pasar, pada orang-orang terdekat mereka yang sudah dikenal seperti keluarga teman - teman atau kolega terdekat. Dalam konteks riset pasar, pendapat dari orang-orang terdekat bukanlah pendapat yang bisa dianggap obyektif. Sebagai orang-orang terdekat, boleh jadi pendapat yang mereka berikan hanya bersifat sebagai penyemangat buat pemilik bisnis, yang pada akhirnya hanya memberikan informasi yang jauh dari akurat. 

Untuk mendapatkan informasi yang berguna dan akurat, seorang pemilik bisnis perlu berbicara langsung dengan (calon) pelanggan yang sebenarnya. Banyak hal yang bisa digali dengan mengadakan pembicaraan langsung dengan mereka, seperti informasi tentang apa yang sebenarnya mereka butuhkan, apa yang mereka inginkan, dan apa harapan mereka dari sebuah bisnis ini? 

Pembicaraan tidak harus bersifat resmi seperti wawancara di televisi, tetapi bisa lebih pada pembicaraan informal yang santai, bisa dilakukan di tempat-tempat yang informal, atau bahkan pembicaraan “lift”, (pembicaraan singkat yang dilakukan dalam lift sebelum sampai ke lantai tujuan). 


F.  Creating and Innovating - Berdasarkan Kebutuhan Pasar Insight 

Riset Pasar adalah titik awal pijakan Anda. Oleh sebab itu, Anda sebagai pemilik bisnis harus memastikan bahwa riset pasar yang dilakukan sudah dilaksanakan dengan metode yang tepat, hingga hasil yang didapat akan obyektif dan berguna untuk Anda. Hasil riset pasar yang dilakukan terdahulu akan memberikan informasi tentang kebutuhan pasar. Didalamnya Anda bisa mendapatkan Customer Insight yang kemudian akan membawa Anda pada proses Ideation - Idea Generation atau penciptaan Ide. 

Dari ide yang didapat, Anda akan mencoba memvisualisasikan, dengan konsep Visual Thinking, yang akan diakhiri dengan Prototyping. Pembuatan prototype akan memberi gambaran Anda tentang seperti apa produk/jasa itu, dan dengan demikian, Anda akan bisa berlanjut ke proses selanjutnya, yaitu penentuan strategi. Strategi apakah yang akan digunakan kedepan? 

Akan ada berbagai strategi yang perlu dirumuskan, termasuk strategi produksi, strategi pemasaran dan penjualan. 

G. Entrepreneurship dan Inovasi 

Inovasi dinyatakan sebagai proses dimana Entreprenur mengubah peluang menjadi gagasan usaha yang bisa dipasarkan. Inovasi merupakan alat yang digunakan oleh para Entrepreneur,  sehingga  para  Entrepreneur  ini  dapat  dianggap  sebagai  katalisator perubahan. Proses Inovasi dikatakan lebih dari sekedar proses dimana dimunculkan gagasan yang bagus, Tetapi juga untuk memahami asal-usul munculnya gagasan dan menyadari bahwa berpikir kreatif (creative thinking) merupakan sesuatu yang penting, atau vital, bagi proses munculnya Inovasi. Bagian ini akan mencoba menjelaskan peran kreatifitas dan inovasi dalam proses Entrepreneurial, yaitu untuk mencoba memahami peluang untuk mengembangkannya. 


KESIMPULAN 

Ada berbagai mitos dalam entrepreneur yang tidak tepat. Kecenderungan orang pada mitos tersebut menghambat orang itu untuk menjadi entrepreneur. Pada dasarnya, banyak sekali keterbatasan (finansial) yang akan dirasakan orang saat orang menjadi pekerja. Tentu saja, ini tidak berlaku bagi mereka yang bekerja sebagai professional di tingkat level top management. 

Dalam dunia enterpreneur, dikenal istilah intrapreneur. Intrapreneur sendiri diartikan sebagai seseorang yang memiliki jiwa entrepreneur tetapi ada dalam sebuah organisasi atau perusahaan, hingga jiwa enterpreneurnya itu bisa membawa mereka ke arah positif bagi perusahaan. 

Paradigma berpikir seorang pengusaha sudah saatnya harus dirubah. Dahulu, orang berpikir dengan cara berpikir ke-aku-an, yang pada akhirnya lebih banyak mengakomodir pemikiran sendiri tentang peluang usaha and potensi pelanggan. Maka, untuk menghindari kesalahan, pemilik bisnis perlu merubah cara berpikir dari “You Organization-centric” yang hanya berpikir dari sudut pandang perusahaan sendiri, menjadi “Them Customer-centric” yaitu mencoba mengetahui apa yang „mereka (pasar, pelanggan)” butuhkan dan bisa kita (sebagai pemilik bisnis) penuhi dengan keberadaan bisnis kita. 

Untuk itu, kita perlu melaksanakan Riset Pasar. Riset pasar diperlukan untuk menjadi media bagai pemilik bisnis agar bisa mengetahui kemaunan pasar, sehingga pemilik bisnis tidak memproduksi produk atau menyediakan jasa yang “mubazir” karena ternyata kurang dibutuhkan atau justru tidak disukai oleh (calon) pelanggan. 

Proses  kewirausahaan  diawali  dengan  adanya  inovasi.  Inovasi  tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari dalam maupun dari luar seperti pendidikan,  sosiologi,  organisasi,  kebudayaan,  dan  lingkungan.  Faktor-faktornya antaralain: kreativitas, inovasi, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembang menjadi wirausaha yang besar tersebut membentuk locus of control. Secara internal, inovasi dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari individu, seperti locus of control, toleransi, nilainilai,  pendidikan,  pengalaman.  Sedangkan  faktor  yang  berasal  dari  lingkungan  yang mempengaruhi diantaranya model peran, aktivitas, dan peluang


Daftar Pustaka

-Osterwalder, Alexander; Pigneur, Yves (2010). Business Model Generation: A Handbook for Visionaries, Game Changers, and Challengers. John Wiley & Sons, Inc. New Jersey. ISBN: 978-0470-87641-1 

-Aulet, Bill (2013). Disciplined Entrepreneurship: 24 Steps to A Successful Startup. John Wiley & Sons, Inc. New Jersey. ISBN: 978-1-118-69228-8 

-http://www.yourarticlelibrary.com/entrepreneurship/difference-between-entrepreneur-and-

intrapreneur-explained/40643/ 

-http://www.smallbusiness-bigresults.com/entrepreneurial-mind-set.htm 

-Joe Tidd and John Bessant (2013), Managing Innovation, Fifth Edition, Willey, ISBN 978-1-

118-71694-6 



Selasa, 29 September 2020

 


  1. Instalasi Rawat Inap Cek kembali formulir permintaan darah, pastikan formulir terisi lengkap (tanda tangan dokter pengirim, cap  ruangan) yang dilengkapi formulir persetujuan screening (setuju atau tidak untuk dilakukan screening)
  2. Lakukan pengambilan spesimen darah untuk pemeriksaan golongan darah, jika pasien pernah melakukan pemeriksaan menggunakan specimen yang sama, gunakan specimen yang telah ada di laboratorium. Perhatikan volume dan persyaratan apesimen (EDTA min.3 cc Expired 3 hari).
  3. Periksa golongan darah disertai pemberian identitas berupa label yang sama dengan formulir.
  4. Lakukan dokumentasi pada buku permintaan darah diisi dengan; nama,tanggal,diagnosa, dokter pengirim, ruanga, jam pengambilan spesimen, petugas sampling, jenis permintaan darah dan volume (PRC, FFP, TC, Trombophoresis,  AHF), golongan darah, priority (Rutin, Cito), PMI rujukan dan Keterangan.
  5. Lakukan verifikasi terhadap identitas pada formulir permintaan dan spesimen.
  6. Hubungi PMI terkait, tanyakan ketersedian darah sesuai dengan permintaan serta jenis golongan darahnya. 
  7. Jika tidak tersedia, hubungi PMI lain dan jika tetap tidak ada persediaan di PMI, hubungi petugas ruangan terkait untuk menginformasikan ke pasien/keluarga, apakah memiliki donor pengganti yang bersedia di bawa ke PMI.
  8. Jika tersedia dan bisa diambil,petugas laboratorium menghubungi perawat tentang ketersediaan darah dan jumlah kantung, isi checklist  permintaan darah, pastikan terisi lengkap
  9. Hubungi driver, informasikan untuk segera mengambil darah ke PMI dengan membawa, spesimen pasien, formulir permintaan darah, dan coolbox dan icepack.
  10. Cek kesesuaian kantong darah dengan form permintaan saat driver kembali dari PMI, pastikan kantung darah yang telah diminta sesuai secara jumlah dan jenisnya,serta cek ulang golongan darah pada kantung darah.
  11. Dokumentasikan penerimaan pada buku ekspedisi darah PMI dan buku pemeriksaan screening terkait, dengan mengisikan catat nama pasien, jenis darah, no kanton, tanggal expired dan kondisi kantong dan golongan darah.
  12. Hubungi perawat, konfirmasi apakah dilakukan screening atau disimpan dahulu (catat nama perawat yang dihubingi serta jam)
  13. Informasikan perawat agar melakukan order pemeriksaan. 
  14. Distribusikan Kwitansi yang telah di print ke bagian kasir, dengan menyertakan tanda terima.

Senin, 28 September 2020

Peran Case Manager (Manajer Pelayanan Pasien) Rumah Sakit

Manajer pelayanan pasien (Case Manajer) adalah seorang coordinator, fasilitator, pemberi advokasi, dan juga educator.  Manajer pelayanan pasien (Case Manajer) diangkat oleh direktur rumah sakit dan bertanggung jawab langsung kepada bertanggung jawab langsung kepada wakil direktur pelayanan medik.  Manajer pelayanan pasien bukan professional pemberi asuhan (PPA).  Manajer pelayanan pasien dalam pelaksanaan pelayanannya menggunakan pendekatan tim yaitu Profesional pemberi asuhan (PPA), pasien, sistem pendukung pasien(keluarga, teman, dsb), pembayar (asuransi).  Manager pelayanan pasien (Case Manger) menjalankan manajemen pelayanan pasien melalui proses kolaboratif untuk assesmen, perencanaan , fasilitasi, koordinasi pelayanan, evaluasi dan advokasi untuk opsi dan pelayanan bagi pemenuhan kebutuhan komprehensif pasien dan keluarganya melalui komunikasi dan sumber daya yang tersedia sehingga member hasil asuhan pasien yang bermutu dengan biaya yang efektif. Manajer pelayanan pasien (Case Manager)  harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi, mengkomunikasikan pikiran, perasaan, dan keinginan secara jujur kepada orang lain tanpa merugikan orang lain. Manajer pelayanan pasien (Case Manager) bisa mengatasi orang-orang maupun situasi yang sulit dengan tenang dan percaya diri. Untuk menjamin Manajer pelayanan pasien berperan dibidang advokasi serta mampu memperjuangkan yang terbaik bagi pasien, rumah sakit, dan para pelanggannya, harus mengikuti pelatihan. Manajer pelayanan pasien (Case Manager) harus siap untuk menjangkau staf klinis dalam tim Profesional Pemberi Asuahn (PPA) untuk memberikan advokasi dan dukungan. Manajer pelayanan pasien (Case Manager) harus memliki ketrampilan bernegosiasi sehingga ia adalah seorang negosiator yang andal. Harus mempunyai daya ingat yang tinggi dan mampu mengatasi stresdengan baik, bekerja secara aktif sesuai fungsi dan tujuannya. Manajer pelayanan pasien harus seorang yang berani mengambil risiko dan kerap dibarengi dengan kemauan mencari hal yang baru yang lebih memadai untuk tujuan memnuhi kebutuhan pasien.  Tujuh kompetensi inti manajer pelayanan pasien :

a. Konsep Manajemen pelayanan pasien 

b. Prinsip praktik Manager pelayanan pasien

c. Manajemen dan pelaksanaan pelayanan kesehatan

d. Reimbursement pelayanan kesehatan

e. Aspek Psikososial Asuhan pasien

f. Rehabilitasi

g. Pengembangan dan kemajuan profesi


Manager Pelayanan pasien adalah seorang perawat atau dokter.  Kualifikasi Pendidikan minimal S1 Ners, dokter, Memiliki pengalaman klinis sebagai professional pemberi asuhan (PPA minimal 3 tahun, memiliki pengalaman sebagai kepala ruangan minimal 2 tahun, atau untuk dokter memiliki pengalaman sebagai dokter ruangan 1 tahun.  Pelatihan yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan manajemen pelayanan pasien yakni : 

a.Pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan klinis terkait dengan penyusunan dan penerapan standar prosedur operasional (SPO) pelayanan Kedokteran yang terdiri dari Panduan  Praktik klinik, Alur Klinis (Clinical Pathway) Algoritme , Protokol, Standing Order.  

b. Pelatihan Pelayanan Fokus pada pasien (PFP). 

c. Pelatihan tentang peransurasian , jaminan kesehatan nasional, dan INA-CBG’S

d. Pelatihan tentang perencanaan pulang (Discharge Planning) 

e. Pelatihan manajemen risiko

f. Pelatihan etika –legal 

g. Pelatihan soft skill seperti aspek psiko-sosio-kultural, komunikasi interpersonal


Aktifitas Manajer pelayanan pasien (Case Manager) adalah:

a. Melakukan Identifikasi pasien agar dapat memberikan intervensi manajemen pelayanan pasien

b. Melakukan kolaborasi dengan dokter dan pasien untuk mengindentifikasi hasil yang diharapkan dan mengembangkan suatu rencana manajemen pelayanan pasien

c. Memonitor intervensi yang ada relevansinya dengan rencana manajemen pelayananan pasien

d. Memonitor kemajuan pasien untuk mengetahui sejauh mana hasilnya bergerak kearah yang diharapkan

e. Menyarankan alternative intervensi praktis yang biayanya efisien

f. Mengamankan sumber-sumber klinis untuk mencapai hasil yang diharapkan

g. Membakukan jalur-jalur komunikasi dengan manajer departemn /bagian

h. Bagi pasien dan keluarga , MPP adalah analog dengan pemamndu wisata (tour guide) dalam berbagai perjalanan kegiatan pelayanaan dirumah sakit


Identifikasi /skrinning pasien, Asesemen untuk manajemen pelayanan pasien, Identifikasi masalah-resiko-kesempatan, perencanaan manajemen pelayanan pasien, pelaksanaan rencana manajemen pelayanan pasien, Monitoring, Fasilitasi, Koordinasi, komunikasi dan kolaborasi, Advokasi, Hasil pelayanan, dan terminasi manajemen pelayanan pasien adalah proses dalam manajemen pelayanan pasien

Identifikasi /skrinning pasien, Asesemen untuk manajemen pelayanan pasien, Identifikasi masalah-resiko-kesempatan,dilakukan kepada seluruh pasien. Perencanaan manajemen pelayanan pasien, pelaksanaan rencana manajemen pelayanan pasien, Monitoring, Fasilitasi, Koordinasi, komunikasi dan kolaborasi, Advokasi, Hasil pelayanan, dan terminasi manajemen pelayanan pasien dilakukan sesuai temuan. Pelaksanaan Manajemen pelayanan pasien didokumentasi didalam rekam medis pasien. Dokumentasi manager pelayanan pasien (Case manager) menggunakan formulir A (Awal) dan Formulir (Catatan Implementasi MPP).  Formulir A dicatat : Identifikasi /skrinning pasien, Asesemen untuk manajemen pelayanan pasien, Identifikasi masalah-resiko-kesempatan, perencanaan manajemen pelayanan pasien Identifikasi / skrinning pasien.  Formulir B dicatat : pelaksanaan rencana manajemen pelayanan pasien, Monitoring, Fasilitasi, Koordinasi, komunikasi dan kolaborasi, Advokasi, Hasil pelayanan, dan terminasi manajemen pelayanan pasien. Peran Manager pelayanan pasien (Case Manager) juga pada proses perencanaan pemulangan pasien. Pemulangan Pasien dimulai saat admisi rawat inap dan dilanjutkan pada hari berikutnya sesuai kebutuhan: Identifikasi pasien menyangkut potensi masalah yang mungkin dihadapi waktu pasien dipulangkan sehingga dapat disusun rencana mengatasi masalah sehingga proses pemulangan aman dan lancar. Identifikasi apakah pasien memerlukan kebutuhan sederhana atau kompleks untuk pemulangan atau transfernya; tidak membutuhkan pelayanan khusu dirumah dn juga tidak membutuhkan pelayan social, atau sebaliknya, tingkat ketergantuangan pada ADL (Ativity Dily Living) tinggi.  Susun rencana klinis asuhan pasien (dilakukan oleh PPA) dalam waktu 24 jam setelah masuk rawat inap) setelah asesemen lengkap, dengan metode IAR( Informasi, Analisis, Rencana), tetapkan sasaran. Koordinasikan proses pemulangan /transfer melalui kepemimpinan dan tanggung jawab pengoperan tugas pada tingkat ruangan. Perncanaanharus terintegrasi secara multidisplin.  Tetapkan tanggal yang diharapkan untuk pemulangan / transfer 24-48 jam setelah admisi . Diskusikan dengan PPA, pasie, Keluarga. Setiap hari lakukan review atau rencana klinis asuhan dan juga update EDD. Libatkan pasien dan keluarga ,pemberi asuhan dirumah untuk keputusan dan pilihan pelayanan, diedukasi dan dilatih , follow up setelah 1-3 hari pertama dirumah.

a. Rencanakan pelayanan sampai tujuh hari setelah pemulangan

b. Gunakan daftar titik (cek-list) 24-48 jam sebelum pemulangan 

c. Biasakan mempertimbangkan keputusan tentang rencana pemulangan pasien setipa hari


Manajemen pelayanan pasien bertujuan untuk :

a.Peningkatan mutu pelayanan

b. Peningkatan kepuasan pasien dan keluarga 

c. Peningkatan keterlibatan pasien dalam asuhan 

d. Peningkatan kepatuhan pasien dalam asuhan 

e. Peningkatan kualitas hidup pasien, 

f. Peningkatan kolaborasi interprofesional didalam tim PPA 

g. Penurunan tingkat asuhan

h. Penurunan waktu perawatan

i. Pencegahan hari rawat yang tidak perlu

j. Penurunan frekwensi, jenis, dan lama pemeriksaan yang tidak perlu 

k. Pengurangan tagihan yang tdiak perlu 

m. Penurunan readmisi, pengurangan kunjunag pasien yang sama ke IGD

n. Membantu proses evaluasi penerapan alur klinis (Clinical pathway)


Senin, 21 September 2020

Kreativitas dan Design Thinking dalam Bisnis

 

Berpikir kreatif dan membuat pemecahan masalah adalah bagian penting dari proses desain untuk mengubah ide menjadi inovasi dan mendobrak penghalang kreativitas.

SCAMPER adalah teknik yang dapat digunakan untuk memicu kreativitas dan membantu mengatasi setiap tantangan. Nama SCAMPER adalah singkatan dari tujuh teknik; (S) Substiute (Mengganti), (C) Combine atau menggabungkan, (A) Adapt atau menyesuaikan, (M) Modify atau memodifikasi, (P) Put to other Use atau kegunaannya, (E) Elimminate atau menghilangkan dan (R) Rearrange atau menyusun kembali.

Contoh penggunaan Tools SCAMPERS : Substitute: Apakah susu almon dan kedelai bisa menggantikan susu sapi untuk membuat es krim? •Combine: Apakah es krim almon/kedelai cocok dikombinasikan dengan roti seperti sandwich? •Adapt: Apakah tekstur dan komposisi es krim sudah cocok dengan konsumen Anda atau sesuai dengan es krim pada umumnya? •Modify: Apa saja varian rasa yang bisa diterima oleh konsumen? Apakah perlu menambahkan cita rasa tradisional seperti rasa es doger, cendol, atau es teler?

Put to another use: Apakah es krim ini dapat dinikmati oleh berbagai kalangan selain yang memperhatikan kesehatan? Apakah es krim ini bisa dijadikan cemilan diet? •Eliminate: Apakah ada elemen yang perlu dihilangkan dari es krim ini? Misalkan menyederhanakan tampilan cup es krim. •Reverse: Apakah urutan persentase resep es krim dapat diubah?

Design Thinking adalah proses berulang dimana kita berusaha memahami pengguna, menantang asumsi, dan mendefinisikan kembali masalah dalam upaya mengidentifikasi strategi dan solusi alternatif yang mungkin tidak langsung terlihat dengan tingkat awal pemahaman kita. Pada saat yang sama, Design Thinking menyediakan pendekatan berbasis solusi untuk menyelesaikan masalah. Ini adalah cara berpikir dan bekerja serta kumpulan metode langsung.



Sabtu, 15 Agustus 2020

Contoh Prosedur Penilaian Kinerja Karyawan Rumah Sakit

 

1.   Bagian HRD siapkan data karyawan yang akan dinilai.

2.    Bagian HRD siapkan formulir penilaian berkala karyawan.

3.   Bagian HRD distribusikan formulir penilaian berkala kepada seluruh atasan unit terkait pada minggu pertama bulan Desember.

4.   Karyawan yang bersangkuatan isi Formulir penilaian secara berjenjang dimulai dari karyawan yang dinilai, atasan langsung dan atasan tidak langsung.

5.  Lakukan Couching dan konseling oleh atasan unit terkait kepada karyawan yang bersangkutan.

6.  Tandatangani hasil penilaian karyawan yang dinilai oleh karyawan yang dinilai, atasan hingga Manager terkait.

7.  Karyawan yang bersangkutan terima hasil penilaian dari atasan unit terkait

8.  Bagian HRD masukkan data penilaian ke komputer sebagai dasar pertimbangan dalam penyesuaian gaji tahunan.

9.  Bagian HRD simpan formulir penilaian berkala kedalam masing-masing file karyawan yang bersangkutan.

Kamis, 13 Agustus 2020

Yang Perlu dipersiapkan sebelum bertemu Angel Investor


Apakah Anda berpikir untuk mencari Angel Investor untuk bisnis kecil atau startup Anda? Langkah pertama harus selalu melihat apakah bisnis Anda adalah perusahaan yang bagus atau tidak. Banyak bisnis yang sangat bagus tidak menarik bagi angel investor. Yang benar adalah bahwa sebagian besar bisnis kecil dan pemula yang berpotensi sukses tidak akan mendapatkan angel investor, Hanya memiliki bisnis bagus yang dapat tumbuh dan berkembang tidaklah cukup.

Jadi apa Bagaimana Anda menarik perhatian Angel Investor?

Berikut pertanyaan yang akan membantu Anda mengetahui apakah bisnis Anda yang kemungkinan menarik bagi Angel Investor.

  1. Apakah bisnis Anda memiliki potensi pertumbuhan yang besar?
    Angel Investor mencari bisnis yang dapat meningkatkan penjualan sepuluh kali lipat atau lebih selama tiga tahun ke depan. Mereka tidak ingin berbagi keuntungan Anda; mereka ingin perusahaan Anda go public atau menjualnya ke perusahaan yang lebih besar. Begitulah cara mereka menghasilkan uang.

Itu membutuhkan pertumbuhan besar. Jadi, Anda membutuhkan pasar yang besar. Itu berarti bukan hanya angka di spreadsheet, tetapi pasar yang akan dipercaya oleh investor itu sendiri. Angel investor menginginkan bisnis yang memecahkan masalah nyata bagi banyak orang.

  1. Apakah perusahaan Anda terukur?
    Skalabel berarti bisnis dapat mempertahankan pertumbuhan besar tanpa perlu terlalu banyak layanan atau karyawan. Bisakah Anda dengan mudah menangani pertumbuhan tanpa kehilangan kualitas? Apakah perlu menggandakan jumlah karyawan untuk menggandakan penjualan?

Pastikan untuk mengingat masa depan. angel investor menyukai bisnis produk, atau layanan produksi, bukan bisnis jasa. Mereka menginginkan bisnis yang dapat meningkatkan penjualan dalam semalam tanpa meningkatkan biaya tetap.

    3. Apakah bisnis Anda dapat dipertahankan?
Angel investor menginginkan bisnis yang tidak dapat dengan mudah diduplikasi oleh pesaing. Mereka mencari sesuatu yang memiliki hak milik, seperti rahasia dagang, hak cipta, merek dagang, dan paten.

Contoh Prosedur Perekrutan Staf Medik beserta Kredensial

 

  1. Perekrutan staf medik diprakarsai oleh kebutuhan pelayanan pasien, tren epidemiologi atau tujuan strategi organisasi untuk memberikan pelayanan yang terbaik, berkualitas dan aman
  2. Manajer Medik dan Direktur Rumah Sakit harus setidaknya dua kali dalam setahun mengevaluasi kebutuhan perekrutan dari staf medik.
  3. Kebutuhan terhadap perekrutan dari staf medik diajukan kepada Direksi PT dan disetujui oleh Direktur PT.
  4. Setiap pelamar harus membuat lamaran tertulis kepada administrasi rumah sakit.
  5. Direktur Rumah Sakit mengirimkan surat permintaan untuk dilakukan kredensial dan previleging kepada Komite Medik sesuai dengan lamaran kandidat.
  6. Sub-komite kredensial meproses kredensial dan privileging sebagai permintaan dari Ketua Komite Medik.
  7. Jika kandidat tersebut memenuhi kredensial dan privileging, komite medik merekomendasikan kandidat beserta kewenangan klinis kepada Direktur Rumah Sakit.
  8. Direktur Rumah Sakit menerbitkan Surat Kewenangan Klinis
  9. Setiap staf medik harus menjalani proses kredensial dan privileging yang di lakukan oleh Komite Medik untuk kemudian memperoleh Surat Kewenangan Klinis dari Direktur Rumah Sakit, kecuali saat keadaan darurat, Direktur Rumah Sakit diperbolehkan untuk mengeluarkan perjanjian klinis tanpa rekomendasi dari Komite Medik.
  10. Proses kredensial dan privileging dilakukan oleh Sub-komite kredensial dari Komite Medik dengan surat permohonan dari Direktur Rumah Sakit kepada komite medik beserta lamaran tertulis dari kandidat kepada administrator rumah sakit.

  11. Proses kredensial dan privileging harus menyertakan paling tidak 3 anggota sub-komite kredensial dari komite medik dengan paling tidak 1 anggota dengan spesialisasi yang sama.

  12. Kandidat yang mengikuti kredensial harus melengkapi Credentialing and Privileging Application dan formulir privileging yang sesuai untuk posisi yang dilamar oleh kandidat.

  13. lnformasi yang diperoleh pada saat proses kredensial harus diverifikasi sumbernya (kecuali tercatat) dan didokumentasikan dalam bentuk tulisan, melalui surat, hasil print verifikasi dari internet atau laporan dari kontak. Semua usaha (dan kegagalan) untuk memperoleh dokumen yang dibutuhkan harus dicatat di file

  14. Komite Kredensial dapat menggunakan konsultan dari luar di dalam grup jika informasi tambahan dibutuhkan berhubungan dengan kualifikasi dan kewenangan dari pelamar.

  15. Komite Kredensial harus memeriksa bukti dari:

    1. Karakter pelamar
    2. Kompetensi dan kualifikasi profesional (ijazah, pelatihan, registrasi)
    3. Kepribadian dan pendirian etik sebelumnya
    4. Status mental dan kesehatan kandidat.
  16. Komite akan menentukan, melalui informasi yang ada pada referensi yang diberikan oleh pelamar dan dari sumber lainnya yang ada pada komite apakah pelamar telah membuktikan dan memenuhi semua kualifikasi yang penting untuk perjanjian dan privileging klinis yang diminta

  17. Sebagai bagian dari proses pembuatan rekomendasi, Komite kredensial dapat mengharuskan pelamar untuk melakukan pemeriksaan fisik dan atau mental oleh dokter yang disetujui oleh Komite Kredensial. Hasil dari pemeriksaan tersebut akan dipertimbangkan oleh komite. Kegagalan dari pemeriksaan tersebut setelah diserahkan secara tertulis kepada Komite Kredensial, diberikan hak kepada pelamar untuk secara sukarela untuk menarik kembali lamaran

  18. Komite Kredensial dapat meminta kandidat untuk menemui komite untuk mendiskusikan setiap aspek dari lamaran kandidat, kualifikasi atau privileging yang diminta.

  19. Hanya praktisi yang mempunyai lisensi (STR) dan diperbolehkan oleh hukum secara independen yang akan mendapatkan kewenangan

  20. Kewenangan akan diberikan menurut prosedur yang dideskripsikan pada kebijakan ini

  21. Komite Kredensial dalam merekomendasikan berisikan :

    1. Rekomendasi Pemberian Kewenangan Klinis
    2. Rekomendasi Pemberian KewenanganK linis dengan catatan
    3. Rekomendasi Pemberian Kewenangan Klinis dengan alasan khusus
  22. Jika rekomendasi dari Komite Kredensial terlambat lebih dari 60 hari, maka Kepala dari Sub-Komite Kredensial akan mengirimkan surat kepada kepala Komite Medik dan direktur Rumah Sakit untuk menjelaskan keterlambatan tersebut.

  23. Kewenangan klinis diberikan untuk periode tidak lebih dari 3 tahun, yang dimulai pada tanggal perjanjian klinis ditandatangani, dan disetujui oleh Direktur Rumah Sakit.