Senin, 27 Agustus 2012

PENGENDALIAN MANAJEMEN DAN PENGUKURAN KINERJA STRATEJIK




1.            EVALUASI DAN PENGENDALIAN.
            Evaluasi kinerja adalah proses dimana para manajer pada seluruh tingkatan mendapatkan informasi mengenai kinerja tugas-tugas yang diberikan dalam perusahaan serta menentukan apakah kinerja tersebut sesuai dengan kriteria yang telah dibuat sebagaimana yang tercantum dalam anggaran, rencana dan tujuan.
            Kinerja dievaluasi pada berbagai tingkat yangberbeda-beda dalam perusahaan : manajemen puncak, tingkat menengah, dan tingkat operasi, yaitu pekerja produksi dan karyawan penjualan. Dalam operasi, kinerja dari seorang supervisor produksi pada tingkat operasi dievaluasi oleh manajer manajer pabrik. Yang selanjutnya para manajer pabrik tersebut dievaluasi oleh eksekutif-eksekutif pada tingkat manajemen. Begitu juga tenaga tenaga penjualan dievaluasi oleh manajer penjualan yang kemudian dievaluasi oleh eksekutif-eksekutif pada tingkat manajemen. Begitu juga tenaga-tenaga penjualan dievaluasi oleh manajer penjualan yang kemudian dievaluasi oleh manajemen penjualan pada tingkatan yang lebih tinggi.
            Pengendalian Manajemen diartikan sebagai evaluasi terhadap kinerja para manajer pada tingkat menengah yang dilakukan oleh manajer pada tingkat yang lebih tinggi. Pengendalian Operasional berarti evaluasi terhadap karyawan pada tingkat operasi oleh manajer pada tingkat menengah.

Pengendalian Operasional Vs Pengendalian Manajemen.
            Berbeda dengan pengendalian operasional yang berfokus pada manajer pada tingkat yang lebih tinggi dan isu-isu strategi jangka panjang. Pengendalian operasional memilikipendekatan manajemen berdasarkan pengecualian (management by exception) yang artinya pengendalian ini menentukan unit-unit atau individu yang kinerjanya tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehingga masalah tersebut dapat segera diperbaiki. Sebaliknya, pengendalian manajemen lebih konsisten dengan pendekatan manajemen berdasarkan tujuan (management by objectives), dimana tujuan jangka panjang seperti pertumbuhan dan profitabilitas ditentukan dan kinerja diukur secara periodik berdasarkan tujuan-tujuan ini.
            Pengendalian manajemen juga memiliki tujuan yang lebih luas dan strategi, mengevaluasi profitabilitas unit secara menyeluruh dan kinerja manajernya untuk memutuskan apakah unit tersebut harus dipertahankan atau ditutup serta memotivasi manajer agar mencapai tujuan manajemen puncak. Dikarenakan fokus yang lebih luas ini, berbagai tujuan pengendalian manajemen pada umumnya memiliki banyak ukuran kinerja. Bukan hanya satu ukuran keuangan atau operasional seperti yang kadangkala terjadi dalam pengendalian operasional. Tampilan berikut bagan organisasi yang menunjukkan perbedaan peran pengendalian manajemen dan pengendalian operasional:


Tujuan Pengendalian Manajemen
            Pada pendekatan manajemen berdasarkan tujuan, manajemen puncak membebankan serangkaian tanggung jawab kepada setiap manajer tingkat menengah. Sifat dari taanggung jawab ini dan oleh karena itu sifat dari tujuan manajemen puncak, tergantung pada bidang fungsional yang terlibat (operasi, pemasaran) dan pada lingkup kewenangan dari manajer tingkat menengah tersebut (lingkup sumberdaya yang ada dalam kendali manajer tersebut).
            Bidang-bidang pertanggungjawaban ini sering disebut sebagai unit bisnis strategis. Konsep unit bisnis strategis khususnya berguna untuk perusahaan yang terdiversifikasi yang membutuhkan ukuran-ukuran kinerja untuk merasionalkan dan mengelola unit-unit bisnis yang berbeda-beda. General electric dikenal luas dengan konsep ini.
Unit Bisnis Strategis terdiri dari seperangkat sktivitas operasi yang dapat dikendallikan yang dapat dikendalikan yang menjadi wilayah tanggung jawab manajer SBU. Pada umumnya  para manajer mempunyai hak otonomi untuk membuat keputusan serta mengelola sumber daya manusia dan fisik pada sebuah SBU. Tujuan pengendalian manajemen adalah:
1.    memotivasi para manajer menggunakan upaya yang sangat tinggi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh manajemen puncak.
2.    menyediakan insentif yang tepat untuk para manajer agar membuat keputusan yang konsisten dengan tujuan yang ditetapkan manajemen puncak.
3.    Menentukan secara adil penghargaan yang diperoleh para manajer atas usaha dan keahlian serta efektivitas mereka dalam mengambil keputusan.

Kontrak Kerja
            Model ekonomi yang disebut sebagai model prinsipal agen adalah sebuah protipe berisi elemen-elemn penting yang harus terdapat dalam kontrak untuk mencapai tujuan tujuan yang diinginkan. Model tersebut menunjukkan 2 aspek penting dari kinerja manajemen yang mempengaruhi hubungan kontrak, yaitu ketidakpastian dan ketidakmampuan untuk mengamati.
            Adanya ketidakpastian dalam lingkungan pekerjaan dan ketidakmampuan untuk mengamati serta keberadaan informasi pribadi untuk manajer membuat hubungan kontrak menjadi rumit. Secara ideal tanpa adanya ketidakpastian dan terdapat kemampuan untuk mengamati yang sempurna, manajer dan manajemen puncak akan mendasarkan kontrak mereka pada seberapa besar usaha yang harus dilakukan oleh manajer. Usaha yang dapat diamati akan meyakinkan kedua pihak atas hasil yang diinginkan. Meskipun demikian adanya ketidakpastian dan ketidakmampuan untuk mengamati berarti bahwa kontrak antara manajer dan manajemen puncak harus mencakup ketidakpastian dan ketidakmampuan untuk mengamati hal tersebut secara spesifik. Hal ini dapat dipenuhi dengan memahami dan menerapkan 3 prinsip kontrak kerja:
1.    Karena ketidakpastian dalam lingkungan manajer, kontrak seharusnya mengakui bahwa faktor-faktor lain didalam dan luar perusahaan juga mempengaruhi hasil usaha dan kemampuan manajer. Oleh karena itu kontrak seharusnya memisahkan hasil dari tindakan manajer dengan usaha dan keahlian dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajer, artinya memisahkan kinerja manajer dari kinerja SBU.
2.    Kontrak seharusnya hanya mencakup faktor-faktor yang dikendalikan oleh manajer. Konsep ini serupa dengan prinsip pertama, yang memisahkan manajer SBU ; prinsip kedua ini tidak memasukkan faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan yang diketahui dari kontrak.
3.    Karena Ketidakpastian dan ketidakmampuan untuk mengamati, seorang manajer penghindar risiko tidak layak dibiaskan untuk menghindari keputusan dengan hasil yang tidak pasti. Sebaliknya, manajemen puncak lebih suka melihat diterapkannya beberapa keputusan yang relatif beresiko ini karena toleransi manajemen puncak yang lebih besar terhadap risiko.

Sebagai akibatnya, kontrak antara manajemen puncak dengan manajer seharusnya mengakui penghindaran risiko manajer dan peran ketidakpastian; perlunya memahami dan menerapkan ketiga prinsip pembuatan kontrak.
           
2.            DESAIN SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN UNTUK EVALUASI
            Pengembangan sistem pengendalian manajemen meliputi identifikasi secara jelas siapa, apa dan kapan dievaluasi. Siapa yang tertarik dalam mengevaluasi kinerja?. Dari aspek yang membutuhkan laporan kinerja terdapat 4 penerima laporan kinerja:
1.    Pemilik, Direktur, atau pemegang saham perusahaan,
2.    Kreditor,
3.    Unit-unit komunitas atau pemerintah yang dipengaruhi oleh operasi perusahaan.
4.    Karyawan perusahaan.
Masing-masing memiliki pandangan yang berbeda, tentang kinerja yang diinginkan.
Aspek kedua pengendalian manajemen adalah apa yang sedang dievaluasi. Pada umumnya yang dievaluasi adalah manajer perorangan untuk menilai efektivitas dan efesiensi kinerja manajer. Alternatifnya fokus evaluasi adalah SBU yang berada dibawah pengendalian manajer dengan tujuan menentukan apakah akan memperluas atau memperkecil SBU tersebut. Selain memfokuskan pada manajer perorangan, evaluasi dapat diarahkan pada suatu tim manajer. Kinerja seorang manajer dapat dibandingkan dengan kinerja manajer lain atau kinerja manajer itu sendiri. Perbandingan dengan manajer lain lazim dilakukan tetapi perbandingan dengan kinerja manajer itu sendiri pada waktu sebelumnya dilakukan bila perbandingan dengan mnajer lain tidak tepat atau tidak adil.
Aspek ketiga pengendalian manajemen adalah kapan evaluasi kinerja dilakukan. Terdapat dua pertimbangan :
1.          Evaluasi dapat dilakukan berdasarkan input sumberdaya yang digunakan manajer. Pendekatan ini menggunakan anggaran induk.
2.          Evaluasi dapat dilakukan berdasarkan output sumberdaya yang digunakan manajer. Pendekatan ini menggunakan anggaran Fleksibel.

3.            PENGUKURAN KINERJA.
            Pengukuran kinerja stratejik adalah sistem akuntansi yang digunakan oleh manajemen puncak untuk mengevaluasi manajer SBU. Pengukuran ini digunakan pada saat tanggung jawab dapat didelegasikan secara efektif kepada manajer SBU dan terdapat ukuran yang cukup untuk mengevaluasi kinerja manajer tersebut. Sebelum mendesain sistem pengukuran kinerja stratejik, para manajer puncak menentukan kapan pendelegasian tanggung jawab (yang disebut dengan desentralisasi) diinginkan.

Desentralisasi.
            Perusahaan dikatakan terdesentralisasi jika perusahaan tersebut telah memilih untuk mendelegasikan sejumlah besar tanggung jawab kepada manajer-manajer SBU. Sebaliknya, perusahaan yang tersentralisasi menyerahkan banyak pengambilan keputusan pada tingkat manajemen puncak. Sebagai contoh, pada perusahaan ritel dengan banyak toko, semua keputusan penetapan harga, pembelian produk, dan keputusan periklanan dibuat pada tingkat manajemen puncak, yaitu pada umumnya oleh eksekutif pemasaran dan eksekutif operasi tingkat puncak. Sebaliknya perusahaan ritel yang terdesentralisasi memperkenankan manajer-manajer toko lokalnya untuk memutuskan produk yang akan dibeli serta jenis dan jumlah periklanan yang akan digunakan.
            Manfaat strategis dari pendekatan sentralisasi adalah bahwa manajemen puncak mempertahankan pengendalian atas fungsi-fungsi bisnis yang penting, sehingga dapat memastikan tingkat kinerja yang diinginkan tercapai. Selain itu dengan keterlibatan manajemen puncak dalam sebagian besar pengambilan keputusan, keahlian manajemen puncak dapat dimanfaatkan secara efektif dan aktivitas-aktivitas dari berbagai unit yang berbeda dalam perusahaan dapat dikoordinasikan dengan efektif. Meskipun demikian bagi banyak perusahaan, pendekatan terdesentralisasi lebih disukai. Alasan utamanya adalah bahwa manajemen puncak tidak dapat mengatur operasi-operasi secara efektif pada tingkat lokal yang diperlukan. Keputusan-keputusan pada tingkat yang lebih rendah dalam perusahaan harus dibuat tepat waktu menggunakan informasi yang tersedia agar perusahaan lebih peka terhadap pelanggan. Sebagai contoh, seringkali manajer toko, penetapan harga dan periklanan sebagai respons terhadap persaingan lokal serta peruabahan kebiasaan dan selera pelanggan.
            Meskipun alasan utama untuk desentralisasi adalah penggunaan pengetahuan lokal  atau khusus oleh manajer manajer SBU, terdapat juga insentif lain yang penting. Pertama, banyak manajer mengatakan bahwa pengukuran kinerja strategis yang terdesentralisasi lebih memberikan motivasi karena memberikan kesempatan bagi para manajer untuk menunjukkan keahlian mereka dan keinginan mereka untuk mencapai, juga menerima pengakuan dan kompensasi atas keahlian mereka, kedua karena tanggung jawab langsung yang ditanggung oleh manajer-manajer SBU, pendekatan desetralisasi memberikan semacam pelatihan untuk calon-calon manajer tingkat puncak masa depan. Terakhir hampir semua manajer sepakat bahwa pendekatan desentralisasi suatu dasar yang lebih baik untuk evaluasi kinerja. Pendekatan ini dipandang lebih objektif dan memberikan lebih banyak kesempatan untuk kemajuan manajer-manajer yang efektif dan bekerja keras.
            Berikut manfaat dan kelemahan desentralisasi:

Manfaat
Kelemahan
1


2
3
4
5
6
Memungkinkan respons yang efektif dan tepat waktu kepada pelanggan
Menggunakan pengetahuan lokal
Melatih manajer
Memotivasi manajer
Menwarkan metode evaluasi kinerja yang objektive
Dapat mengganggu  kooerdinasi  antar SBU


Dapat menyebabkan potensi konflik antar SBU

Jenis-Jenis Unit Bisnis Strategis.
            Terdapat 4 jenis unit bisnis strategis, yaitu :
1.    Cost SBU, adalah SBU unit atau pendukung dalam perusahaan yang bertujuan menyediakan prouk atau jasa bermutu terbaik pada biaya paling rendah. Contohnya meliputi departemen perakitan pabrik, departemen pemrosesan data, serta departemen pengiriman dan penerimaan.
2.    Revenue SBU, fokus SBU ini adalah pada fungsi penjualan, didefinisikan menurut lini produk ataupun wilayah geografis.
3.    Profit SBU, bila sebuah SBU menghasilkan pendapatan dan menimbulkan sebagian besar biaya untuk menghasilkan pendapatan ini. Manajer SBU laba bertanggung jawab atas pendapatan maupun biaya, dan oleh karena itu ingin mencapai suatu laba operasi yang dinginkan.
4.    Investment SBU, pendekatan dimana pada saat perusahaan memiliki banyak SBU laba yang berbeda-beda karena memiliki banyak lini produk yang berbeda-beda, mungkin sulit untuk membandingkan kinerja SBU-SBU tersebut karena ukuran maupun sifat produk dan jasa mereka sangat bervariasi.

Isu Strategis terkait dengan Penerapan Unit Bisnis Strategis Biaya.
            Terdapat 3 isu:
1.    Pergeseran Biaya
2.    Fokus berlebihan pada tujuan jangka pendek
3.    Kecendrungan terjadinya salah paham antara manajer-manajer dan manajemen puncak dalam hal kelonggaran anggaran.

1.    Pergeseran Biaya.
                  Pergeseran biaya terjadi pada saat suatu departemen  mengganti biaya-biaya yang dapat dikendalikan. Sebagai contoh, manajer dari sebuah SBU biaya produksi yang dievaluasi berdasarkan biaya-biaya yang dapat dikendalikan memiliki insentif untuk mengganti biaya variabel dengan biaya tetap. Alasannya adalah bahwa manajer tersebut secara umum tidak bertanggung jawab atas peningkatan biaya tetap yang tidak dapat dikendalikan. Dampak akhirnya bisa berupa biaya keseluruhan yang lebih tinggi bagi perusahaan, meskipun biaya yang dapat dikendalikan dalam departemen manajer tersebut mungkin menurun.biaya tetap meningkat sementara biaya variabel menurun.

2.    Fokus berlebihan pd tujuan jangka pendek.
                  Isu strategis lainnya adalah perhatian pada banyak sistem pengukuran kinerja yang berfokus secara berlebihan pada angka-angka biaya tahunan; hal ini memotivasi manajer untuk hanya memperhatikan biaya-biaya jangka pendek dan mengabaikan isu-isu strategis jangka panjang. Kekhawatiran pada hal ini menjadi alasan penting mengapa SBU biaya seharusnya menggunakan pertimbangan strategis nonkeuangan maupun informasi keuangan mengenai biaya.

3.    Kecendrungan terjadinya salah paham antara manajer-manajer dan manajemen puncak dalam hal kelonggaran anggaran
                  Isu strategis ketiga dalam menetapkan SBU berbasis biaya adalah mengakui peran-peran negatif dan positif dari kelonggaran anggaran (budget slack). Budget slack adalah selisih antara kinerja yang dianggarkan dengan kinerja yang diharapkan. Hampir semua SBU memiliki sejumlah kelonggaran anggaran, dibuktikan dengan target biaya anggaran yang sedemikian rupa lebih mudah dicapai daripada yang diharapkan. Manajer-manajer seringkali merencanakan sejumlah kelonggaran dalam anggaran kinerja mereka untuk memungkinkan terjadinya peristiwa-peristiwa tidak menguntungkan yang tidak diharapkan. Meski demikian sejumlah besar kelonggaran mungkin disebabkan oleh upaya manajer SBU untuk membuat sejumlah kinerja mereka lebih mudah dan dengan demikian menunjukkan tingkat kinerja keseluruhan yang lebih rendah daripada seharusnya yang dapat dicapai.
      Anggapan positif mengenai kelonggaran ini adalah bahwa kelonggaran anggaran secara efektif mengarahkan pengambilan keputusan dan tujuan keadilan dari evaluasi kinerja. Dengan membatasi perhatian manajer terhadap ketidakpastian lingkungan, maka kelonggaran anggaran menghindari risiko relatif manajer. Oleh karena itu evaluasi yang dihasilkan memenuhi aspek keadilan, dan risiko yang berkurang membantu manajer dalam membuat keputusan-keputusan yang hampir selaras dengan tujuan manajemen puncak.

Menerapakan SBU didepartemen Produksi dan Departemen Pendukung.
      Terdapat 2 metode untuk menerapkan SBU biaya pada unit departemen produksi dan departemen pendukung, yaitu metode biaya diskresioner dan metode biaya rekayasa. Kedua metode ini mempunyai dasar perilaku biaya dan fokus yang berbeda; masing-masing input atau output. Bila biaya terutama bersifat tetap, maka fokus perencanaan yang berorientasi input adalah sesuai karena biaya tetap bersifat tidak dapat dikendalikan dalam jangka pendek. Pendekatan perencanaan perlu digunakan agar manajemen puncak dapat secara efektif menganggarkan biaya-biaya yang diharapkan dalam setiap SBU biaya diskresioner; fokusnya lebih kepada perencanaan-perencanaan biaya yang diharapkan pada awal periode daripada evaluasi terhadap jumlah biaya yang telah dikeluarkan pada akhir periode. Sebaliknya jika biaya terutama bersifat variabel dan oleh karenanya bersifat dapat dikendalikan maka pendekatan yang berorientasi output yaitu berdasarkan evaluasi biaya-biaya yang dapat dikendalikan pada akhir periode, akan sesuai.
Discreationary-cost method (metode biaya dikresioner), merupakan pendekatan yang berorientasi pada input, karena biaya sebagian besar dianggap tidak dapat dikendalikan dan keleluasan diterapkan pada tahap perencanaan.
Engineered-cost methd (metode biaya rekayasa), merupakan pendekatan yang berorientasi pada output karena biaya bersifat variabel dan oleh karenanya direkayasa atau dapat dikendalikan.
      Faktor lain yang mempengaruhi pemilihan antara SBU biaya diskriasioner dan SBU biaya rekayasa adalah kompleksitas lingkungan kerja. SBU yang outputnya relatif tidak jelas (misalnya penelitian dan pengembangan) memiliki tujuan yang kurang dirumuskan dengan baik dan karenanya lebih mungkin dievaluasi sebagai SBU biaya diskrisioner, SBU yang operasinya dirumuskan dengan baik dan tujuan outputnya ditentukan dengan lebih jelas akan dievaluasi sebagai SBU biaya direkayasa
 Seperti tabel berikut:

metode biaya dikresioner
metode biaya rekayasa
1

2

3
4
Sebagian besar biaya bersifat tetap, tidak dapat dikendalikan
Perusahaan menggunakan fokus perendanaan berorientasi input.
Operasinya kurang jelas.
Fokusnya adalah pada perencanaan.
Sebagian besar biaya bersifat variabel, dapat dikendalikan.
Perusahaan menggunakan fokus evaluasi berorientasi output.
Operasinya dirumuskan dengan baik
Fokusnya adalah pada evaluasi.


Referensi :
1        Blocher.”Manajemen Biaya, penekanan strategis, . penerbit Salemba Empat,2011.”
2        Hansen & Mowen. ”Manajemen Biaya. . penerbit Salemba Empat,2000.”

Tidak ada komentar: