Kamis, 08 Maret 2018

Tata laksana laundry di Rumah Sakit xxx

Tahapan kerja di laundry:
1.      Penerimaan linen kotor dengan prosedur pencatatan
Linen kotor diterima yang berasal dari ruangan dicatat berat timbangan sedangkan jumlah satuan berasal dari informasi ruangan dengan formulir yang sudah distandarkan. Tidak dilakukan pembongkaran muatan untuk mencegah penyebaran organisme.
2.      Pemilahan dan penimbangan linen kotor
a.       Lakukan pemilahan berdasarkan beberapa kriteria :
  1. Linen infeksius berwarna;
  2. Linen infeksius putih;
  3. Linen tidak terinfeksi berwarna;
  4. Linen tidak terinfeksi;
  5. Linen asal IBS (disediakan jaring) karena terdiri dari pakaian dengan banyak tali;
  6. Linen berkerah dan bertali disediakan jaring untuk proses pencucian.
b.         Upayakan tidak melakukan pensortiran. Pensortiran untuk linen infeksius sangat tidak dianjurkan, penggunaan kantung sejak dari ruangan adalah salah satu upaya menghindari sortir;
c.     Penimbangan sesuai dengan kapasitas dan kriteria dari point 2 dimaksudkan untuk menghitung kebutuhan bahan-bahan kimia dalam tahapan proses pencucian;
d.      Keluarkan linen infeksius dari kantung luar dan masukkan kantung luar tanpa membuka segel.
3.      Pencucian
Pencucian mempunyai tujuan selain menghilangkan noda (bersih), awet (tidak cepat rapuh), namun memenuhi persyaratan sehat (bebas dari mikroorganisme patogen). Sebelum melakukan pencucian setiap harinya lakukan pemanasan-desifeksi untuk membunuh seluruh mikroorganisme yang mungkin tumbuh dalam semalam di mesin-mesin cuci. Untuk dapat mencapai tujuan pencucian, harus mengikuti persyaratan teknis pencucian :
a.       Waktu
Waktu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan temperatur dan bahan kimia guna mencapai hasil cucian yang bersih, sehat. Jika waktu tidak tercapai sesuai dengan yang dipersyaratkan, maka kerja bahan kimia tidak berhasil dan yang terpenting mikroorganisme dan jenis pests seperti kutu dan tungau dapat mati.
b.      Suhu
Suhu yang direkomendasikan untuk tekstil : katun < 90 derajat celcius,  
c.       Bahan kimia
Bahan kimia yang digunakan terdiri dari alkali, emulsifier, detergent, bleach, sour, softerner, dan starch. Masing-masing mempunyai fungsi tersendiri.
d.      Mechanical action
Mechanical action adalah putaran mesin pada saat proses pencucian. Faktor yang mempengaruhi
  1. Loading/muatan tidak sesuai dengan kapasitas mesin. Mesin harus dikosongkan 25% dari kapasitas mesin;
  2. Level air yang tidak tepat;
  3. Motor penggerak yang tidak stabil yang disebabkan oleh poros tidak simetris lagi dan automatic reverse yang tidak bekerja;
  4. Takaran detergen yang berlebihan dapat mengakibatkan melicinkan linen dan busa yang berlebihan akan mengakibatkan sedikit gesekan;
  5. Menggunakan bahan kimia yang sesuai atau tidak berlebihan.
4.      Pemerasan
Pemerasan merupakan proses pengurangan kadar air setelah tahap pencucian selesai. Pemerasan dilakukan dengan mesin cuci yang juga memiliki fungsi pemerasan, namun jika mesin pemerasan terpisah, maka diperlukan troli untuk memindahkan hasil cucian dari mesin cuci menuju mesin pemerasan. Troli diupayakan dipelihara kebersihan dan pencucian dengan desinfektan sebelum melakukan pekerjaan. Proses pemerasan dilakukan dengan mesin pada putaran tinggi selama sekitar 5-8 menit.
5.      Pengeringan
Pengeringan dilakukan dengan mesin pengering yang mempunyai suhu sampai dengan 70 derajat celcius selama 10 menit. Pada proses ini, jika mikroorganisme yang belum mati atau terjadi kontaminasi ulang diharapkan dapat mati.
 
6.      Penyetrikaan
Penyetikaan dapat dilakukan dengan mesin setrika besar dapat disetel sampai dengan suhu sampai dengan 120 derajat celcius, namun harus diingat bahwa linen mempunyai keterbatasan terhadap suhu sehingga suhu disetel antara 70-80 derajat celcius.
7.      Pelipatan
Melipat linen mempunyai tujuan selain kerapihan juga mudah digunakan pada saat penggantian linen dimana tempar tidur kosong atau saat pasien di atas tempat Linen yang perlu mendapat perhatian khusus pada pelipatan:
  • Laken
  • Steek laken
  • Zeil atau perlak
  • Sarung bantal
  • Selimut
Proses pelipatan sekaligus juga melakukan pemantauan antara linen yang masih baik dan sudah rusak agar tidak dipakai lagi.
Prosedur pelipatan:
a.   Laken
  1. Pegang ujung linen posisi memanjang dengan jahitan terbalik;
  2. Pertemuan antara ujung linen menjasi ½ bagian;
  3. Lipat kembali pegang pertengahan lipatan, temukan dengan kedua ujung menjadi ¼ bagian;
  4. Pinggir jahitan posisinya di bawah;
  5. Keempat ujung linen dipertemukan menjadi 2 bagian;
  6. Selanjutnya sampai dengan l/8 bagian, posisi label harusdi atas.
b.   Steek laken
  1. Posisi jahitan terbalik (sama dengan laken);
  2. Pegang ujung linen arah panjang pertemukan;
  3. Lipat menjadi ½ bagian;
  4. Lipat kembali menjadi ¼ bagian, perhatikan posisi label di bagian kanan;
  5. Lipat kembali menjiadi dua arah lebar harus sampai l/8 bagian, lipat satu kali lagi.
c.   Zeil atau perlak: yang baik digulung agar tidak cepat robek dan permukaan datar.
d.   Sarung Bantal
1)    Posisi jahitan di dalam;
2)    Lipat menjadi setengah bagian memanjang arah label di luar lipat lagi menjadi 1/3 bagian.
e.   Selimut
1)    Posisi jahitan di luar (terbalik) posisi label dikanan;
2)    Lipat menjadi ½ bagian arah lebar selimut;
3)    Lipat lagi rnenjadi ¼ bagian;
4)    Lipat arah panjang selimut menjadi ½ bagian;
5)    Lipat lagi menjadi ¼ bagian;
6)    Lipat lagi menjadi 1/8 bagian.
8.      Penyimpanan
Penyimpanan mempunyai tujuan selain melindungi linen dari kontaminasi ulang baik dari bahaya seperti mikroorganisme juga untuk mengontrol posisi linen tetap stabil. Sebaiknya posisi linen yang terdapat di ruang penyimpanan 1,5 par dan 1,5 par di ruangan ruangan. Lemari penyimpanan dipisahkan menurut masing-masing ruangan dan diberi obat anti gagat yaitu kapur barus. Sebelum disimpan linen dibungkus dengan plastik transparan, sebelum didistribusikan.
9.      Pendistribusian
Pendisribusian merupakan aspek administrasi yang penting yaitu pencatatan linen yang keluar. Disini diterapkan sistem FIFO yaitu linen yang tersimpan   sebelumnya yaitu 1,5 par yang mengendap dipenyimpanan harus dikeluarkan, sedangkan yang selesai dicuci disiapkan untuk yang berikutnya, sehingga tidak ada pekerjaan yang menunggu mengambil pada saat yang bersamaan linen yang dicuci ditukar dengan linen bersih yang siap didistribusikan. Sedangkan linen sisa yang berada di ruangan harus disiapkan untuk digunakan kembali. Setiap linen yang dikeluarkan dicatat.

10.  Penggantian linen rusak
Jenis kerusakan ada yang dapat diperbaiki (diserahkan ke penjahit) dan ada pula yang memang harus mendapatkan penggantian. Jenis kerusakan yang harus mendapatkan penggantian diantaranya adalah:
  • Terdapat noda-noda yang sudah tidak dapat dihilangkan seperti terkena cairan medik dengan area yang luas ataupun terkena noda semir, mungkin dapat dihilangkan dengan cairan spoting namun jika dihitung biaya dan kerapuhan yang terjadi menjadi tidak efisien;
  • Kerapuhan beberapa bagian akibat bahan kimia korosif seperti H2O2 ataupun bahan kimia lainnya yang korosif seperti peroksida maupun Chlorine diatas 5%;
  • Robek karena tersangkut.
Penggantian segera dilakukan oleh pihak laundry dengan mengirimkan formulir permintaan kerusakan kepada pihak logistic

Tidak ada komentar: